Khutbah Jumat: Bentuk Kesombongan

Kamis, 16 September 2021 - 19:47:17 - Dibaca: 1661 kali

Google Plus Stumbleupon


Jambi Ekspres Online / Jambi Ekspres Online

Oleh: M.Sodik Hamdi.S.Ag.,M.Pd*    

  

 

Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.

Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung. Semua itu kejahatannya amat dibenci di sisi Tuhanmu.

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Pada ayat ini ditegaskan bahwa seseorang akan diminta pertanggungjawabannya atas pendengaran, penglihatan dan hatinya sebagaimana ia akan dihisab atas seluruh anggota badannya. Karena hati adalah pemimpin anggota badan, maka perbuatan-perbuatan anggota badan mencerminkan apa yang ada di hati. Jika hati baik maka anggota badan menjadi baik dan jika hati rusak maka rusak pula anggota badan.

Di antara penyakit hati yang dilarang dalam ayat-ayat tersebut adalah bersikap takabur (sombong) terhadap para hamba Allah.

 

Berdasarkan hadits ini, orang yang takabur (sombong) ada dua macam:   Pertama, seseorang yang menolak kebenaran yang disampaikan orang lain, padahal ia tahu bahwa kebenaran ada pada orang tersebut. Ia menolaknya karena orang yang menyampaikan kebenaran itu lebih muda darinya atau lebih rendah kedudukannya, sehingga ia merasa berat untuk mengikuti kebenaran itu.

Hadirin sekalian, Fir’aun tidaklah binasa kecuali karena sifat takaburnya. Fir’aun telah melihat sekian banyak mu’jizat Nabi Musa ‘alaihissalam, namun ia tidak beriman kepada Nabi Musa ‘alaihissalam.

Demikian pula Abu Lahab dan tokoh-tokoh kafir Quraisy. Setelah mereka melihat mu’jizat Al-Qur’an dan mengakui bahwa Al-Qur’an adalah benar,, tidak ada yang membinasakan mereka dan membuat mereka tidak beriman kecuali sifat takabur dan kesombongan mereka.

Sedangkan jenis kedua dari orang takabur adalah seseorang yang menganggap dirinya memiliki keistimewaan yang melebihi orang lain. Ia melihat dirinya dengan pandangan kesempurnaan dan penuh kebaikan. Ia lupa bahwa itu semua sejatinya adalah pemberian Allah kepadanya. Dengan itu, ia lalu bersikap congkak kepada sesama hamba Allah dan merendahkan mereka, karena –menurutnya- ia jauh lebih hebat, lebih tinggi,  lebih baik, lebih sholeh, lebih mulia lebih pintar, lebih kaya dan lebih segalanya, daripada orang lain

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Merendahkan orang lain tidak hanya bisa dilakukan oleh orang kaya dan penguasa saja. Sebaliknya bisa juga dilakukan oleh siapa pun.

Virus takabur ini jangan sampai menyerang hati kita. Virus takabur ini jangan sampai merusak hati kita. Kesombongan tidak dapat menyelamatkan diri kita tidak bisa membesarkan nama kita . Jika dalam hati kita telah muncul sedikit saja virus kesombongan membanggakan kekuasaan dan jabatan yang kita miliki, hendaklah kita renungkan kisah Fir’aun. Fir’aun pada akhir hayatnya tenggelam dan binasa di dalam air dan tidak bermanfaat baginya kerajaan dan pasukan-pasukannya. Sesunguhnyalah kita tidak punya kekuasaan dan kekuatan. Karena sakit gigi saja akan membuat kita terbaring tidak berdaya. Asam urat kumat kitapun tak berdaya, Sekuat apapun, sehebat apapun, sekayaapa pun, sekuasa apapun, setinggi apapun jabatan kita suatu saat nanti pasti ia akan dikalahkan oleh suatu kepastian yaitu kematian.

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Seseorang yang selalu menjaga hatinya serta terus menerus berusaha untuk menghindarkannya dari virus takabur, maka ia akan menyandarkan sesuatunya kepada Allah, berzikir dan bertasbih selalu kepada Allah, meyakini bahwa kecerdasan, ilmu, harta dan jabatannya, sejatinya bukanlah berasal dari dirinya. Oleh karenanya, ia akan selalu bersyukur, bersikap tawadhu’ rendah hati, kepada orang lain.  

 *) Penulis adalah Wakil Ketua NU Kota Jambi dan Wartawan www.jambiekspres.co.id