Mohammed Morsi Meninggal

Rabu, 19 Juni 2019 - 10:42:38 - Dibaca: 512 kali

Google Plus Stumbleupon


Jambi Ekspres Online / Jambi Ekspres Online

KAIRO - Mantan Presiden Mesir, Mohammed Morsi meninggal dunia pada usia 67 tahun, setelah jatuh pingsan di dalam ruang sidang di Kairo pada Senin (17/6).

Melansir laman BBC. Ia jatuh pingsan ketika disidang dalam kasus dakwaan mata-mata dan tak lama kemudian dikabarkan meninggal dunia.

Menurut jaksa penuntut umum, Mohammed Morsi jatuh pingsan tidak lama setelah berbicara dari balik kerangkeng yang digunakan untuk menempatkan sebagian terdakwa ketika disidang. Padahal, berdasarkan laporan medis tidak menunjukkan ia mengalami cedera baru-baru ini.

"Jenazahnya dipindahkan ke rumah sakit dan prosedur yang perlu dilakukan sedang ditempuh," lapor televisi pemerintah Nile News, Selasa (18/6)

Dapat diketahui, Morsi dipilih sebagai presiden tahun 2012 ketika masih menjadi pemimpin Ikhwanul Muslimin. Tetapi, ia digulingkan oleh militer satu tahun kemudian menyusul aksi protes massal.

Ia tercatat sebagai pemimpin pertama Mesir yang dipilih secara demokratis. Namun sejak digulingkan ia masuk tahanan dan menjalani hukuman penjara selama tujuh tahun dalam kasus pemalsuan permohonan pencalonan presiden tahun 2012.

Di bawah pemerintahan yang sekarang, Mohammed Morsi menghadapi berbagai dakwaan termasuk spionase. Pihak berwenang juga menyasar para pendukungnya dan menggolongkan Ikhwanul Muslimin sebagai organisasi teroris.

Morsi lahir di desa El-Adwah Provinsi Sharqiya di kawasan Delta Nil pada tahun 1951. Ia mendalami teknik sipil di Universitas Kairo pada tahun 1970-an sebelum pindah ke Amerika Serikat untuk merampungkan studi tingkat doktoral.

Ia dipilih sebagai kandidat presiden dari Ikhwanul Muslimin dalam pemilihan Mesir tahun 2012 setelah pilihan pertama yang ingin diusung organisasi itu mengundurkan diri.

Morsi menang dengan selisih suara tipis dan berjanji memimpin pemerintahan "bagi seluruh rakyat Mesir". Namun para penentangnya mengatakan, Morsi gagal memerintah selama masa kekuasaan yang bergolak.

Mereka menuduhnya, membiarkan kelompok-kelompok berhaluan Islam mendominasi arena politik dan salah urus ekonomi. Terlebih, kasus mata-mata itu dikaitkan dengan kontaknya dengan kelompok militan Palestina, Hamas.

Penentangan warga terhadap pemerintahannya bertambah besar dan jutaan orang turun ke jalan-jalan di seluruh Mesir untuk menggelar aksi bertepatan dengan peringatan satu tahun kekuasaan Morsi pada tanggal 30 Juni 2013.

Pada tanggal 3 Juli malam, militer membekukan sementara konstitusi dan mengumumkan pembentukan pemerintahan interim yang diisi oleh para teknokrat sebelum digelar pemilihan presiden baru. Morsi menyebut langkah tersebut sebagai kudeta dan ia kemudian ditahan oleh militer.

Sementara itu, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menyalahkan'tiran'Mesir atas kematian Mantan Presiden Mohammed Morsi yang meninggal di rumah sakit Kairo setelah pingsan selama sesi pengadilan.

"Sejarah tidak akan pernah melupakan para tiran yang menyebabkan kematiannya lantaran memenjarakannya dan mengancamnya dengan eksekusi," kata Erdogan, sekutu dekat Mohammed Morsi, dalam pidato yang disiarkan televisi di Istanbul.

Dikutip dari laman Channel News Asia, Selasa (18/6) hubungan antara Turki dan Mesir telah hampir tidak ada sejak dipimpin oleh Abdel Fattah al-Sisi. Pada 2013, ia menggulingkan presiden Islamis Morsi. Sejak itu Sisi menjadi presiden.

Erdogan mengecam penangkapan Morsi sebagai 'kudeta' dan menyerukan pembebasan tahanan Ikhwanul Muslimin di Mesir. Pemimpin Turki menggambarkan kematian Morsi sebagai simbol penganiayaan yang menargetkan dia dan rakyatnya.

"Di mata kami, Morsi adalah seorang yang kehilangan nyawanya demi sebuah kasus yang ia yakini," katanya.

(der/fin)