Dulu Budhi Doyan Nyangkruk dan Ngobrol soal Musik Rock

Para Pelaku Pengeboman dan Terduga Teroris di Mata Tetangga, Teman, dan Polisi (1)

Kamis, 17 Mei 2018 - 08:49:10 - Dibaca: 1177 kali

Google Plus Stumbleupon


Budhi Satrijo
Budhi Satrijo / Jambi Ekspres Online

Dari dulunya ramah dan dermawan, Budhi Satrijo berubah menjadi sangat tertutup sejak tak lagi mengajar. Di kampung asalnya, Dita Oepriarto pernah menjadi ketua RT. Tapi, sudah dua tahun ini dia tak pernah menjenguk sang ibu.

MIFTAKHUL F.S., Sidoarjo-M. SALSABYL ADN, Surabaya

PERUBAHAN tingkah keseharian si tetangga itu mulai dirasakan Sigit Priyadi dalam dua tiga tahun terakhir. Tak ada lagi tegur sapa. Atau guyonan sembari nyangkruk.

’’Orangnya (menjadi) tertutup,’’ kata Sigit.

Sigit paham betul karena dirinya dan Budhi Satrijo, si tetangga itu, sudah sejak 2006 bertetangga. Rumah mereka berdampingan di Perumahan Puri Maharani, Sukodono, Sidoarjo, Jawa Timur.

Meski sikapnya berubah jauh, tetap saja Sigit dan para tetangga yang lain benar-benar kaget ketika mengetahui Budhi diduga terlibat jaringan terorisme. Pria 48 tahun itu disergap dan ditembak mati oleh Densus 88 pada Senin lalu (14/5).

Penangkapan pada Senin pagi itu hanya berselang sehari setelah serangan bom bunuh diri di tiga gereja di Surabaya. Pada malamnya (13/5), bom juga meledak di salah satu rumah di Rusunawa Wonocolo, Sidoarjo.

Menurut Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian, Budhi adalah wakil ketua Jamaah Ansharut Daulah (JAD) Jawa Timur. Ketuanya adalah Dita Oepriarto yang mengajak istri dan empat anaknya mengebom tiga gereja di Surabaya.

Azizah, tetangga yang lain, mengingat bagaimana dulu Budhi dan sang istri, Wqh, begitu dermawan kepada anak-anak tetangga. ’’Anak saya termasuk yang sering dikasih makanan,’’ kata Azizah yang tinggal hanya beberapa rumah dari rumah pasangan yang belum dikaruniai anak tersebut.

Setiap Lebaran, Budhi dan istri juga tak pernah alpa untuk anjangsana. Bersilaturahmi kepada para tetangga. ’’Mereka yang datang ke rumah-rumah,’’ ungkap Azizah.