Pemerintah Berencana Tekan Defisit Anggaran

Rabu, 11 April 2018 - 10:15:03 - Dibaca: 1323 kali

Google Plus Stumbleupon


Jambi Ekspres Online / Jambi Ekspres Online

JAKARTA – Tahun depan pemerintah tidak hanya berniat memangkas anggaran infrastruktur yang selama tiga tahun ini menjadi pos anggaran dengan jumlah terbesar. Merespons sejumlah kritik terkait menggunungnya utang, pemerintah berencana menetapkan target defisit APBN yang lebih rendah ketimbang tahun ini 2,19 persen. Menkeu Sri Mulyani Indrawati menuturkan, tahun depan pemerintah menargetkan angka defisit kurang dari 2 persen terhadap produk domestik bruto (PDB).

Dengan target defisit yang cukup rendah, pemerintah dituntut mampu mengumpulkan penerimaan negara yang cukup. Untuk itu, mantan direktur pelaksana Bank Dunia itu menyatakan akan berupaya hati-hati dalam menetapkan target pajak untuk tahun depan.  

Sri Mulyani menargetkan, pada 2019, total penerimaan negara akan meningkat 7,6 persen hingga 13 persen. Sementara itu, belanja pemerintah pusat bakal naik sekitar 7,3 persen dan untuk belanja ke daerah, termasuk untuk transfer dana desa, akan naik 8,3 persen. ’’Itu semua masih dalam hitungan pagu indikatif,’’ ungkapnya.

Mengenai subsidi energi, Sri Mulyani mengatakan bahwa asumsi harga minyak Indonesia (ICP) akan ditingkatkan. ’’Jadi, kita akan melihat perkembangan dari  ICP. Tapi, kemungkinan akan di atas USD 50, yaitu USD 58 sampai USD 65,’’ imbuhnya.

Ekonom Tony Prasetiantono menilai, pemerintah seharusnya tidak perlu menurunkan defisit hingga kurang dari 2 persen. Sebab, itu justru bakal mengakibatkan kinerja APBN menurun.

’’Saya pikir pemerintah tidak perlu terlalu defensif dan overreacted. Tidak perlu diturunkan lagi. Nanti malah APBN kehilangan daya dorongnya,’’ jelasnya kepada koran ini kemarin (10/4).

Tony melanjutkan, defisit yang terlalu rendah malah akan berdampak negatif terhadap perekonomian domestik. Sebab, stimulus fiskal bakal melemah. Akibatnya, pertumbuhan ekonomi tidak bisa mencapai 5 persen. ’’Ini tidak baik. Dengan target seperti ini, APBN justru tidak kredibel. Itu tidak realistis untuk kondisi sekarang,’’ imbuhnya.

Project Consultant Asian Development Bank (ADB) Eric Sugandi menuturkan, penetapan kenaikan target penerimaan yang berada di kisaran 7,6 persen hingga 13 persen adalah sesuatu yang sulit dicapai.

(ken/c4/sof)