Fasha-Maulana Unggul Jauh Dari Sani-Izi, Rilis Hasil Survei Idea Institute

Senin, 12 Februari 2018 - 13:42:54 - Dibaca: 508 kali

Google Plus Stumbleupon


Jambi Ekspres Online / Jambi Ekspres Online

JAMBI - Lembaga Idea Institute merilis hasil survey terbarunya untuk Pemilihan Walikota dan Wakil Walikota Jambi periode 2018-2023. Hasilnya, bakal pasangan calon Fasha-Maulana masih mengungguli Abdullah Sani-Kemas Alfarizi Arsyad (Sani-Izi).

Bahkan elektabilitas Fasha-Maulana unggul jauh dengan 73 persen dan Sani-Izi 27 persen. Hasil ini berbanding lurus dengan tingkat popularitas Sy Fasha 97,6 persen, Maulana 74,5 persen, Abdullah Sani 78,2 persen dan Alfarizy 31,7 persen.

“Ini merupakan survei terbaru kita yang dilaksanakan tanggal 14-18 Januari 2018. Hasilnya, Fasha-Maulana 73 persen dan Sani-Izi 27 persen,” ujar Jafar Ahmad, Direktur Idea Institute dalam pemaparannya di Hotel Mega Indah, Minggu (11/2) kemarin.

Simulasi Idea Institute juga dilakukan terhadap 5 daerah pemilihan (Dapil) yang ada di Kota Jambi. Hasilnya juga cukup mencengangkan, Fasha-Maualana mendominasi pesaingnya Abdullah Sani-Izi.

Untuk Dapil I, Jelutung, Pasar Jambi elektabilitas Fasha-Maulana berada di angka 63 persen dan Andullah Sani-Alfarizi 37 persen. Dapil II, Jambi Timur, Pelayangan,  Fasha-Maulana unggul 69 persen, Abdullah Sani-Alfarizi 31 persen dan Dapil III, Jambi Selatan, Paal Merah, Fasha-Mualana 66 persen dan Abdullah Sani-Alfarizi 34 persen.

Dapil IV, Alam Barajo, Kotabaru, Fasha-Maulana 80 persen Abdullah Sani-Alfarizi 20 persen. Sedangkan Dapil V, Danau Sipin, Danau Teluk dan Telanaipura Fasha-Maualana 77 persen dan Abdullah Sani Izi 23 persen.

“Kita menyakini hasil ini tidak berubah jauh, karena Margin of error 4,38 persen dengan tingkat kepercayaan 95 persen. Adapun kuesioner direncankan 502 dan kuesioner yang diolah 499 dengan demografis, jenis kelamin dan umur dikontrol berdasarkan populasi. Variable demografis lainnya ada empat diperoleh dari systematic random sampling,” jelasnya.

Dalam survai ini, Idea Institute juga membagi pemilih berdasarkan jenis kelamin yang nantinya akan menggunakan hak pilihnya di Pilwako Jambi. Dimana pemilih peremuan lebih dominan memilih Fasha-Maulana dengan 80,5 persen dan laki-laki 63,7 persen.

“Bebeda dengan Abdullah Sani-Alfarizi cukup dominan di pemilih laki-laki dengan 36,3 persen dan perempuan 19,5 persen. Tapi hasil ini masih tertinggal dengan Fasha-Maulana dengan 80,5 untuk perempuan dan 63,7 laki-laki,” katanya.

Tidak hanya itu, Idea Institute juga meneliti berdasarkan usai pemilih dari  17-61 tahun keatas. Fasha-Maulana juga unggul, misalnya di usia pemilih pemula 17-20 tahun dengan 82,8 persen dan Abdullah Sani-Alfarizi 17,2 persen.

Usia 21-30 tahun, Fasha-Maulana 80,4 persen Abdullah Sani-Alfarizi 19,6 persen dan usia 31-45 tahun, Fasha-Maulana 66,3 persen dan Abdullah Sani-Alfarizi 33,7 persen. Sedangkan 46-60 tahun Fasha-Maualan juga unggul dengan 65,0 persen, Abdullah Sani-Alfarizi 35,0 persen dan usai 61 tahun keatas Fasha-Maulana 60,0 persen dan Abdullah Sani-Alfarizi 40,0 persen.

“Kita juga kelompokkan berdasarkan pekerjaan, pendidikan, pendapatan, tempat tinggal alat komunikasi dan status perkawinan. Hasilnya tidak juah berbeda, Fasha-Maulana masih unggul,” terangnya.

Manariknya, kata Jafar, jika pasangan calon ini disilangkan Fasha-Alfariz dan Abdullah Sani-Maulana hasilnya menunjukkan angka yang berbeda. Dimana eletabilitas Sy Fasha-Alfarizi berada pada angka 62 persen dan Abdullah Sani-Maulana 38 persen.

“Bahkan dalam simulasi yang kita lakukan perdapil, Abdullah Sani-Maulana bisa unggul di Dapil III, Jambi Selatan dan Paal Merah. Kesimpulan saya, ini dipengaruhi figure  Maulana. Apakah karena Maulana sebelumnya pernah pertarung atau memang karena sosialisasi yang memang gencar,” bebernya.

Bagaimana kemungkinan terjadinya kejadian luar biasa, seperti politik uang dan sebagainya? Menurut Jafar, praktik politik uang pada pilwako agaknya masih akan terjadi. Namun jumlah besaran uang pada politik uang tidak berpengaruh signifikan. “Politik uang tidak perpengaruh signifikan. Kalau pun terjadi namun jumlahnya tentu berada diangka yang besar,” sebutnya

Untuk Kota Jambi politik akan terjadi secara selektif. Ini karen peredaran uang yang akan terjadi pada warga tidak terlalu efektif. Jika salah memberikan maka hasilnyapun akan sia-sia. "Terlalu mahal membayar orang Jambi untuk dipengaruhi memilih, karena di Jambi sangat heterogen dari berbagai kalangan," pungkasnya.

(aiz)