Kuatkan Indikasi Teroris, Penyerangan Simbol Agama Merajalela

Senin, 12 Februari 2018 - 13:36:03 - Dibaca: 811 kali

Google Plus Stumbleupon


Jambi Ekspres Online / Jambi Ekspres Online

JAKARTA - Aksi biadab penyerangan gereja St. Lidwina diduga merupakan jaringan teroris. Dugaan tersebut dikuatkan dengan Suliyono, sang penyerang yang juga merusak patung Yesus di gereja yang  terletak di Bedog, Trihaggo, Sleman, Jogjakarta tersebut.

Informasi yang diterima Jawa Pos (Induk Jambi Ekspres), menyebutkan diduga kuat pelaku merupakan anggota jaringan teror kelompok Mujahidin Indonesia Timur (MIT). Kelompok yang lebih dikenal dengan nama Santoso cs itu hingga saat ini memang masih aktif.

Plus, ada beberapa anggota Santoso cs yang masih berupaya merekrut. Perekrutan terjadi di beberapa daerah, seperti Bima, Bali dan Banyuwangi. Kelompok Santoso cs ini memang terhubung dengan kelompok yang berada di Bima. Istri kedua mendiang Santoso berasal dari Bima.

          Dikonfirmasi terkait hal tersebut, Kapolda Jogjakarta Brigjen Ahmad Dofiri menuturkan, saat ini pelaku masih masih dalam perawatan dan diupayakan secepatnya diperiksa. ”Untuk motif masih didalami,” terangnya saat dihubungi Jawa Pos kemarin.

          Yang utama, sebenarnya anggota polisi mampu untuk melumpuhkan pelaku sebelum melakukan hal yang lebih membahayakan. ”Kalau tidak cepat dilumpuhkan berbahaya,” tuturnya.

          Untuk informasi bahwa pelaku merupakan jaringan Poso, Kabareskrim Komjen Ari Dono Sukmanto meminta semuanya untuk menunggu. ”Penyelidikan masih berlangsung,” terang jenderal berbintang tiga tersebut.

Dia memastikan bahwa Densus 88 Anti Teror telah turun tangan untuk menyelidiki dan menganalisa kejadian tersebut. ”Apakah benar aksi teror dengan modus lone wolf atau malah hanya aksi kejahatan biasa,” papar mantan Kapolda Sulawesi Tengah (Sulteng) tersebut.

          Sementara Pengamat Terorisme Al Chaidar menjelaskan, penyerang diduga merupakan kelompok teroris karena ada pengrusakan terhadap patung yang merupakan simbol agama tersebut. Hal tersebut mirip seperti yang dilakukan Islamic State of Iraq and Syiria (ISIS). ”Kalau ISIS selama ini dikenal merusak berbagai situs sejarah, dari Khorsabad patung singa raksasa, patung singa Assyira bahkan sampai masjid juga dihancurkan,” ujarnya.

          Kabareskrim menambahkan, untuk antisipasi penyerangan pada tempat ibadah, tentunya dilakukan bersama Polri dan TNI. Untuk Polri sendiri nanti intelijen yang akan memberikan masukan. ”Apakah perlu untuk peningkatan pengamanan atau tidak. Kalau sementara ini semua masih landai,” paparnya.

          Sebelum kehancuran ISIS di Suriah dan basisnya di Asia Tenggara, tepatnya Filipina, pemimpin ISIS juga sempat menginstruksikan agar para simpatisannya untuk melakukan aksi dengan barang sehari-hari, seperti pisau, pedang dan panah. ”Hal itu juga yang dilakukan pelaku,” paparnya.

Terpisah, Ketua Komisi I DPR Abdul Kharis Almasyhari menyayangkan terjadinya peristiwa penyerangan jamaat gereja Santo Lidwina di Sleman, Jogja. Menurut dia, di masa tahun politik saat ini, seharusnya semua pihak menjaga kondusivitas, agar setiap peristiwa tidak melebar kemana-mana."Saya terusik, ini harus menjadikan aparat kepolisian dan intelijen untuk lebih waspada," kata Kharis.

Anggota dewan asal Solo itu menilai, menjadi tugas kepolisian untuk melakukan investigasi atas peristiwa ini. Dalam hal ini, Polri harus memastikan apakah pelaku melakukan aksi atas motif pribadi atau terdapat pihak lain di belakang layar terkait teror. "Saya belum bisa berandai-andai (terkait penyebab). Kami lihat dulu hasil investigasi seperti apa," ujarnya.

Kharis menilai sejauh ini situasi kondusif di tanah air telah tercipta, sekalipun ada sejumlah nama perwira TNI maupun Polri yang ikut dalam kontestasi pilkada. Kharis menilai partisipasi sejumlah perwira itu seharusnya mampu meningkatkan kondusivitas pilkada."Saya meyakini tidak ada satu calonpun yang ingin situasi menjadi tidak kondusif. Kalau itu terjadi, yang rugi mereka sendiri," tandasnya.

Penyerangan Simbol Agama Merajalela

Penyerangan terhadap jemaat gereja St. Lidwina kian menegaskan makin banyaknya serangan kepada simbol dan figur agama. Dalam beberapa waktu terakhir setidaknya ada tiga serangan yang terjadi pada simbol dan figur agama.

          Ketiga kejadian itu yakni, selain penyerangan ke St. Lidwina yang melukai empat orang, salah satunya Romo Karl Edmund Preir, ada pula Ustad Prawoto yang dianiaya di depan rumahnya di Bandung Kulon oleh lelaki berinisial AM.

Ustad Prawoto akhirnya meninggal dunia karena kejadian tersebut. Ada juga penganiayaan penganiayaan kepada pengasuh Pondok Pesantren Cicalengka KH Umar Basri saat shalat subuh. Kedua penganiaya belakangan disebut mengalami sakit jiwa.

Utusan khusus Presiden RI untuk dialog dan kerja sama antar agama dan peradaban Din Syamsuddin, mengecam keras kekerasan bersenjata terhadap jemaat gereja. “Kami semua ikut prihatin. Sekali lagi kami mengecam dan menolak keras,” terang dia saat dihubungi Jawa Pos kemarin.

Kejadian itu menguatkan kecurigaan bahwa ada benang merah dengan peristiwa sebelumnya. Yaitu, penyerangan terhadap ulama dan aktivis Islam di Bandung. Bahkan, penyerangan terhadap aktivis Islam berujung pada kematian.

Dia menegaskan bahwa peristiwa itu bukan kejadian biasa, tapi sudah sangat luar biasa. Dalam waktu bersamaan, terjadi penyerangan terhadap simbol-simbol keagamaan, figur dan tempat ibadah. Menurut ulama kelahiran Sumbawa, NTB itu, ada suatu skenario yang sengaja diciptakan untuk mengadudomba antar umat bergama. “Ini adalah sebuah skenario, walaupun saya tidak punya faktanya,” terangnya. Tujuannya untuk menganggu stabilitas nasional dan menciptakan konflik antar umat beragama.

Din mengajak semua umat beragama untuk menahan diri dan tidak mudah terprovokasi. Umat beragama jangan mudah diadudomba. Ia menyerahkan sepenuhnya kasus itu kepada pihak kepolisian. Guru besar Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta itu mendorong polisi mengusut tuntas kasus tersebut dan mengungkap siapa aktor di balik penyerangan.

Dia khawatir jika kasus itu tidak bisa diungkap dan hanya berhenti pada orang gila, maka akan menyulut ketidak puasaan masyarakat. Selain itu, lanjutnya, akan menimbulkan kecurigaan di antara umat beragama. Akhirnya peristiwa itu dikaitkan dengan masa lalu pada 1965 yang pernah terjadi di Banyuwangi. “Ini sungguh ujian berat bagi kepolisian, kami berharap polisi bisa mengatasinya,” tuturnya.

Sekretaris Umum PP Muhammadiyah Abdul Mukti juga mengutuk keras aksi penyerangan di gereja. “Apa pun alasannya, kekerasan itu jelas bertentangan dengan ajaran agama,” tegasnya. Polisi harus bergerak cepat mengusutnya. Jangan sampai polisi mengambil kesimpulan sebelum menemukan bukti-bukti kuat.

Dalam menyikapi kejadian itu, lanjutnya, masyarakat harus kritis dan bijak. Jangan mudah dihasut dengan informasi yang tidak jelas, baik dari media masa maupun media sosial.

          Sementara itu, anggota dewan Pengarah Unit Kerja Presiden untuk Pembinaan Ideologi Pancasila (UKP-PIP) Romo Antonius Benny Susetyo menyayangkan terjadinya penyerangan tersebut. Meski sangat memprihatinkan, dia meminta masyarakat, khususnya umat Katholik tidak terprovokasi dengan aksi biadab tersebut.

“Umat beragama tidak boleh terpancing. Percayakan pada pihak kepolisian,” ujarnya saat dihubungi, kemarin.

Oleh karenanya, Romo Benny berharap, polisi bisa mengusut kasus tersebut. Ttidak hanya yang terjadi di Gereja St Lidwina Bedog, Sleman, melainkan semua kasus yang terjadi berentetan itu. Mulai dari penyerangan ulama di Jawa Barat hingga persekusi yang dialami Biksu di Banten. Mengingat kasus-kasus itu berlangsung dalam waktu yang berdekatan. “Harus dicari akar masalahnya apa,” ujarnya.

 Dia menilai, rentetan kasus yang belakangan terjadi sangat ganjil. Pasalnya, selama ini, relasi yang terjalin antara umat beragama terbilang sudah cukup harmonis. Tak terkecuali di lingkungan Gereja St Lidwina Bedog. Untuk itu, kepolisian sebagai pihak yang memiliki kemampuan mengusut harus menjalankan tugasnya secara maksimal.

“Selama ini relasi ga ada masalah, jadi mungkin ada faktor lain. Kita harap Polri akan mengungkap itu,” imbuhnya.

Kecepatan kinerja Polri akan sangat membantu dalam mengindari prasangka yang bisa berdampak pada peristiwa perpecahan. “Karena berulang-ulang terjadi. Jadi warning agar kita tidak mudah diprovokasi,” imbuhnya. Umat Katholik sendiri, lanjutnya, percaya kepolisian bisa mengusut kasus tersebut.

Pernyataan senada juga disampaikan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Zainut Tauhid Sa'adi. Tindakan itu, kata dia, sama sekali tidak mencerminkan ajaran nilai-nilai agama. “Apa pun motifnya, tindakan tersebut patut dikutuk dan tidak bisa ditoleransi,” ujarnya.

Pihaknya meminta aparat kepolisian untuk menindaklanjuti dan mengusut kasus itu secara tuntas. Tak lupa, kepolisian juga harus segera memberikan penjelasan kepada public terkait duduk persoalannya. Hal itu penting, guna menghindari sikap saling curiga antar kelompok masyarakat yang dapat mengganggu kerukunan antar umat beragama.

Zainut menambahkan, MUI juga meminta masyarakat untuk ikut serta menjaga kondusifitas. Caranya dengan tidak menyebarkan opini, berita hoax, dan menciptakan isu yang justru memperkeruh suasana dan mengganggu ketertiban nasional.

“MUI menyampaikan simpati yang mendalam atas beberapa korban dari serangan tersebut, semoga diberikan kesabaran dan kesembuhan,” imbuhnya.

Pulang dari Sulawesi, Suliono Berubah

Suliono sebenarnya berasal dari keluarga sederhana yang toleran. Di Desa Kandangan, Kecamatan Pesanggaran, Kabupaten Banyuwangi, tempat lahir Suliono, ada masjid, pura, dan gereja yang lokasinya berdekatan. Lingkungan di sana sangat menghormati perbedaan.

Orang tua Suliono, Mistaji, 57, dan Edi Susiyah, 53, menceritakan bahwa anaknya mulai berubah setelah merantau ke Sulawesi mengikuti kakaknya. Dia adalah anak ketiga di antara empat bersaudara. Kakak pertamanya, Totok Atmojo, 30, kini tinggal di Papua. Kakak keduanya, Moh. Sarkoni, 29, merantau ke Sulawesi. Sedangkan adiknya sedang nyantri di salah satu pesantren di Kecamatan Genteng, Banyuwangi.

Didampingi Forpimka Pesanggaran yang kemarin datang ke rumahnya yang sederhana, Mistaji menceritakan bahwa Suliono sebenarnya adalah anak pendiam. Tidak pernah neko-neko. Setelah menyelesaikan pendidikan di SMPN 1 Pesanggaran, Suliono sempat nyantri di Pondok Pesantren Ibnu Sina. Pesantren itu binaan Ketua PC NU Banyuwangi KH Masykur Ali. ”Di Pak Masykur hanya enam bulan,” ujar Mistaji.

Setelah dari Pesantren Ibnu Sina, Suliono pindah ke rumah kakaknya, Sarkoni, di Sulawesi. Tepatnya di Desa Lantula Jaya, Kecamatan Witaponda, Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah. Namun, di lingkungan Sarkoni yang merupakan basis NU, Suliono tidak kerasan. Dia merasa tidak cocok dengan tradisi NU yang dijalankan warga di sekitar rumah Sarkoni. ”Dia (Suliono, Red) lalu pindah ke Palu. Pengaruhnya ya di Sulawesi itu,” kata Mistaji.

Saat pulang, Suliono membikin kaget keluarganya di Banyuwangi. Pakaiannya selalu model jubah. Dia secara terbuka juga menentang kebiasaan puji-pujian menjelang salat lima waktu di musala dan masjid kampung. ”Pujian dianggap teriak-teriak dan mengganggu orang tidur,” ujar Mistaji menirukan ucapan anaknya.

Mistaji menegaskan, perubahan pada anaknya itu hanya terjadi dalam cara ibadah. Suliono tidak pernah membahas masalah lain seperti bendera atau kenegaraan. ”Saya sudah berusaha menyadarkan, tapi tidak bisa,” ungkapnya.

Setelah pulang dari Palu, Suliono lalu berpamitan kepada keluarganya untuk menuntut ilmu di salah satu pesantren di Magelang, Jawa Tengah. Di pesantren tersebut lembaga pendidikan tersedia lengkap. ”Saya belum pernah datang ke pesantren itu, tapi katanya ada sekolah umum juga,” ujarnya.

Nuraini, sepupu Suliono, menyatakan sempat bertemu dengan Suliono pada Ramadan lalu. Dia pulang selama 18 hari. ”Saat itu saya disuruh pakai jilbab dengan bercadar,” ungkapnya.

Saat bertemu itu, lanjut Nuraini, Suliono juga bercerita soal rencana pernikahannya. Menurut dia, tidak semua perempuan menarik dirinya. Dia hanya akan menikahi perempuan yang sesuai dengan dirinya, misalnya memakai cadar. ”Saya tidak akan menikah. Saya akan menikah dengan yang hanya terlihat matanya,” ucap Nuraini menirukan ucapan Suliono.

(sli/abi/c9/ang/idr/syn/bay)