Siswa MTsN Sungaipenuh Tawuran Pakai Clurit, 4 Diamankan, 1 Luka Ringan

Selasa, 06 Februari 2018 - 12:21:50 - Dibaca: 587 kali

Google Plus Stumbleupon


Jambi Ekspres Online / Jambi Ekspres Online

SUNGAIPENUH - Dunia Pendidikan Kota Sungai Penuh kembali tercoreng. Ini disebabkan pecahnya tawuran antar pelajar kemarin (5/2).

Parahnya lagi, tawuran itu justru terjadi antara siswa Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) Tanah Kampung dan MTsN Model Sungaipenuh. Imbasnya, empat orang siswa MTsN Tanah Kampung dan Sekolah Menengah Pertama (SMPN) 2 Sungai Penuh yang juga terlibat dalam tawuran itu diamankan anggota Shabara Polres Kerinci.

 

"Faktor sosial juga bisa menjadi pemicu, oleh karena itu penguatan harus dilakukan. Budaya madrasah juga musti dikembalikan lagi", Prof DR Mukhtar Latif - Pengamat Pendidikan

 

Informasi yang diperoleh koran ini, tawuran terjadi sekitar pukul 10.45 WIB. Tawuran terjadi setelah pelajar MTsN Tanah Kampung melakukan penyerangan ke MTsN Model. ‘‘Saat tawuran tadi ada pelajar yang bawa senjata tajam,’‘ ujar Ardi, salah seorang warga Sumur Anyir, Sungai Penuh.

Sementara itu warga lainnya mengatakan, tidak lama setelah kejadian petugas kepolisian langsung datang. Disebutkannya, sejumlah pelajar MTsN Tanah Kampung dan satu orang siswa SMPN 2 Sungai Penuh langsung diamankan petugas kepolisian. ‘‘Siswa yang terlibat tawuran sudah dibawa ke Polres Kerinci. Informasinya ada juga yang dibawa ke rumah sakit karena terluka,’‘ ujar warga yang enggan disebutkan namanya.

Terpisah, Kasat Sabhara Polres Kerinci, AKP Amir Syafrudin, S.H. dikonfirmasi membenarkan anggotanya telah mengamankan empat pelajar yang diduga ikut dalam aksi tawuran tersebut. Dia mengatakan, diantara pelajar ini ada yang membawa senjata tajam berupa celurit, dan sudah diamankan ke Polres Kerinci.

‘‘Benar, kita telah aman kan empat pelajar yang terlibat tawuran, dan salah satu diantara ada yang membawa sajam jenis celurit, selanjutnya sudah kita serahkan ke Unit PPA Reskrim untuk diproses,’‘ katanya.

Ditambahkannya lagi, akibat tawuran ini, satu orang siswa MTsN Model Sungai Penuh mengalami luka ringan di bagian tangan. ‘‘Ya, cuma satu orang yang mengalami luka ringan,’‘  ungkapnya.

Saat ditanya motif terjadinya tawuran itu, aparat dari Polres Kerinci belum bisa bisa memberi keterangan pasti karena masih dalam tahap penyelidikan. Hanya saja, berdasakan informasi yang berhasil dihimpun, tawuran itu disebabkan adanya dendam lama antar siswa.

Sementara itu, Kanit PPA Polres Kerinci, Ipda Ragil, mengatakan bahwa pihaknya saat ini masih melakukan proses pemeriksaan terhadap ke empat pelajar yang telah diamankan. ‘‘Kita masih mintai keterangan empat orang pelajar tersebut,’‘ singkatnya.

Terpisah, Kakan Kemenag Kota Sungai Penuh, Fahrizal, dikonfirmasi mengatakan bahwa pihaknya saat ini menyerahkan upaya perdamaian yang tengah dilakukan pihak Kepolisian. ‘‘Untuk perdamaian antar pelajar, kami serahkan kepada pihak kepolisian,’‘ ujar Fahrizal.

Kedepannya,  sambung Fahrizal, Kemenag Kota Sungai Penuh berencana untuk memanggil seluruh Kepala Sekolah lingkup Kemenag Kota Sungai Penuh. Hal tersebut dilakukan untuk mengantisipasi dan mengambil langkah-langkah yang akan dilakukan agar kejadian tawuran antar pelajar tidak terjadi lagi.

‘’Harapan kita semoga ke depan tidak terjadi lagi hal yang sama, tentunya akan kita ambil langkah-langkah dan akan kita kumpulkan seluruh kepala madrasah lingkup Kemenag Kota Sungai Penuh,’‘ ungkapnya.

‘‘Dalam waktu dekat ini, kita akan bahas hal itu dengan seluruh Kepsek,’‘  tambahnya

Pengamat Pendidikan Provinsi Jambi, Muktar Latif mengatakan,  terjadinya tawuran antar pelajar, apa lagi pelajar madrasah dikarenakan ada pengurangan nilai-nilai  yang terjadi diinstusi tersebut.

Menurutnya, dalam menyikapi permasalahan seperti ini, Kemenag harus segara turun ke lapangan untuk melakukan evaluasi.

‘‘Ini harus cepat ditindak lanjuti, dan harus diselesaikan,’‘ katanya.

Dikatakan Muktar, kejadian ini juga bisa terjadi karena pengaruh besar dari era globalisasi. Kejadian tawuran ini merupakan duplikasi dari perkembangan informasi yang mereka terima.

Ditambah lagi, duduk di bangku MTsN, merupakan fase dimana anak-anak beranjak dewasa. Fase ini juga dapat dikatakan sebagai fase pencarian jati diri.

‘‘Disini merupakan masa di mana  tergolaknya mereka membangun kepribadian,’‘ ungkapnya.

Fase ini jika tidak didukung dengan budaya sekolah yang baik maka hal seperti ini yang terjadi. Oleh karena itu perhatian khusu harus diberikan.

Budaya sekolah merupakan aturan-aturan sekolah yang memberikan batasan-batasan bagi siswa baik di dalam sekolah maupun diluar sekolah.

Kemudian, longgarnya budaya sekolah yang menyebabkan kejadian di Sungai Penuh ini terjadi. Padahal hal tersebut seharusnya tidak terjadi di sekolah yang bernaung di bawah Kemenag.

‘‘Faktor sosial juga bisa menjadi pemicu, oleh karena itu penguatan harus dilakukan. Budaya madrasah juga musti dikembalikan lagi. Kemudian penertiban alat komunikasi dikalangan siswa,’’ katanya.

‘‘Razia diluar atau di dalam sekolah harus kembali digalakkan,’‘ pungkasnya.

(adi/nur)