Pancaroba, Nelayan Tanjabtim Mulai Alih Profesi

Selasa, 26 Desember 2017 - 11:12:48 - Dibaca: 268 kali

Google Plus Stumbleupon


JAHIT JARING : Karena tidak bisa melaut, maka sebagian nelayan menjadi buruh jahit jaring.

 
JAHIT JARING : Karena tidak bisa melaut, maka sebagian nelayan menjadi buruh jahit jaring.   / Jambi Ekspres Online

 

MUARASABAK - Sejumlah nelayan di Kecamatan Kuala Jambi saat ini mulai beralih profesi. Pasalnya, musim pancaroba membuat hasil tangkapan mereka berukurang. Bahkan nyaris tidak mendapat hasil sama sekali saat melaut.

“Susah sekrang ini ke laut, belum ngisi malah sering tekor. Kalau tetap pergi melaut, karena biaya yang dikeluarkan tidak sesuai dengan pendapatan, ”ujar Agus salah seorang nelayan kemarin.

Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, lanjut Agus terpaksa mengambil upah jahit jaring. “Ye ambek upah jait jaringlah bang saat ini. Dari pada apa ada di gadai (Pokdai),” tuturnya.

Senada apa yang diungkapkan Agus, Buyung salah seorang nelayan yang tinggal di Parit 4 megatakan, selama musim pancaroba dirinya merasa sangat kesulitan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Bahkan, dirinya sempat mengadaikan barang miliknya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

“Ginilah bang, kalau sudah musim pancaroba. Apa yang ada dirumah digadai dulu, nanti kalau sudah ngisi ke laut baru ditebus kembali barang-barang yang digadai,” ungkapnya.

Sementara itu Salim salah seorang buruh menuturkan, memasuki musim pancaraba dirinya lebih memilih untuk mengambil upah mengocek sabut kelapa untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

“Kalau musim nelayan ngisi ke laut, dalam sehari bisalah dapat upah bongkar ikan mencapai Rp 80 ribu hingga Rp 90 ribu. Kalau sekarang jangankan mencari 80 ribu, untuk lepas lauk makan sehari-hari pun sulit, mau tidak mau ngambil upah ngocek kelapa,” keluhnya.

“Dan ini pun sulit di prediksi berapa lama musim pancaroba. Biasa satu sampai tiga minggu, bisa juga sampai satu bulan, ini saja sudah hampir tiga minggu,” ucapnya.

(oni)