Longsor Padang, 11 Tewas

Senin, 28 Januari 2013 - 09:36:38 - Dibaca: 2474 kali

Google Plus Stumbleupon


Jambi Ekspres Online / Jambi Ekspres Online

9 Masih Tertimbun

PADANG -  Bencana  tanah longsor di Data Kampung Dadok  Kanagarian Sungai Batang Kecamatan Tanjung Raya Kabupaten Agam kemarin ( 27/1) menewaskan 11 orang warga sekitar. Sedangkan 9 warga  yang ikut menjadi korban bencana tanah longsor tersebut belum jelas nasibnya.

Saat ini, tim evakuasi masih berupaya untuk mencari 9 korban yang belum dapat ditemukan tersebut. Pemerintah Kabupaten Agam menetapkan status tanggap darurat selama 7 hari terhadap bencana  tanah longsor dan banjir bandang yang menerjang Kabupaten Agam.

Pantauan Padang Ekspres (jawapos group, red) di lokasi  bencana tanah longsor yakni di  Kampung Dadaok Kanagarian Sungai Batang Kecamatan Tanjung Raya Kabupaten Agam, terlihat banyak masyarakat yang berbondong-bondong untuk datang melihat proses evakuasi korban yang tertimbun tanah longsor dari Bukit Kampung Dadok. Untuk menuju lokasi sangat sulit. Karena  jalan untuk menuju  lokasi sangat terjal. Jarak antara Jalan Raya Lubuk Basung  ke titik lokasi  tanah longsor ada sekitar 5 km. Kendaraan roda dua dan roda empat baru bisa masuk ke lokasi, setelah satu unit escavator  digunakan untuk membersihkan material  longsor yang menutupi jalan menuju lokasi bencana tanah  longsor. Jalan baru bisa dilewati kendaraaan pada pukul 12. 15 WIB.

 Untuk mencapai  titik lokasi, tak semua kendaraan bisa menjangkaunya.Bahkan tak jarang tim relawan  yang akan membantu  proses evakuasi,  berjalan kaki untuk mencapai  titik lokasi bencana.  Untuk bisa menembus ke lokasi dengan berjalan kaki, dibutuhkan waktu hampir dua jam.  Di lokasi  bencana terlihat hamparan ranah longsor seluas 20 hektare.Tanah longsor telah menimbun 12 rumah di tempat tersebut.

Animo masyarakat yang  ingin menyaksikan  proses evakuasi, sempat membuat petugas kewalahan. Sebab, kendaraan penyalur bantuan  kesulitan untuk menuju lokasi. Sebab, banyak masyarakat yang datang dengan menggunakan kendaraan roda dua. Sehingga mempersempit  akses jalan untuk sampai ke lokasi.

Sebagian warga yang datang ada yang sekedar ingin menyaksikan lokasi bencana, namun ada juga  warga yang datang untuk memastikan kondisi  keluarga mereka yang tertimbun tanah longsor.Pada pukul 16.00 WIB,  tim evakuasi berhasil mengevakuasi korban  Rosda ( 55 thn) dari timbunan tanah longsor. Sedangkan pada pukul 17.30 WIB, tim evakuasi berhasil  menembukan 4 jenazah lainnya yakni  Indah (9 thn), Dila (8 thn), Erni Astuti  (38 thn), Juliardi  (25 thn). Sementara itu, korban Nursinah  ( 65 thn), Martini  (60 thn),  Tarajudin (65 thn), Asril  St Nurdin  (68 thn) Julianti  ( 26 thn)  dan Aldi  ( 9 thn) ditemukan sekitar pukul 11. 00 WIB.

 Isak tanggis keluarga korban, tak terbendung,saat  tim evakuasi yang terdiri dari  BPBD,  SAR , PMI, TNI, Polri melakukan evakuasi terhadap keluarga mereka yang tertimbun tanah longsor. Peristiwa tanah longsor tersebut merupakan peristiwa yang tak pernah di duga warga. Karena pada saat kejadian tersebut, tak ada pertanda awal  sebelum peristiwa naas tersebut terjadi.

Asnidar, saksi mata kejadian menuturkan peristiwa  tanah longsor tersebut terjadi pada pukul 05.15 WIB.  Kala itu dirinya baru selesai shalat subuh. Tiba-tiba saja, ia merasakan   ada  getaran dari tanah yang begitu kuat. Ia merasakan kekuatan getaran itu lebih dahsyat dari gempa  2009 lalu.  ‘’ Saya merasakan rumah saya terangkat, karena saking kuatnya  getaran tersebut. Saya langsung ambil  anak saya dan berlari  keluar rumah.  Suasana masih begitu gelap. Dari  arah belakang rumah , saya mendengar jeritan minta  tolong. Saya tak berani datang untuk melihatnya karena saya takut dengan suara gemuruh yang terjadi tersebut,’’ ucapnya.

Setelah, datang masyarakat  lainnya, barulah ia  berani untuk datang ke tempat suara yang meminta tolong tersebut. Kala itu, pagi telah datang dan  Asnidar sudah dapat melihat suasa di sekelilingnya, Ia  mengaku kaget, setelah menyaksikan  rumah kerabatnya, sahabatnya  telah rata dengan tanah. Tak terlihat  atap rumah warga yang tinggal di bawah  rumahnya.

‘’Posisi rumah saya memang berada pada posisi ketinggian, dibanding dengan 12 rumah warga lainnya yang tertimbun  oleg keganasan  tanah longsor  tersebut. Alhamdulillah, gulungan tanah longsor yang begitu hebat itu, berhenti tepat satu buah rumah dari rumah rumah saya. Allah masih saying pada kami. Sehingga, allah masih menyelamatkan  kami sekeluarga,’’ujarnya.

Ibu dua anak itu mengatakan tak ada firasat apapun  yang  ia rasakan. Diakunya  sehari sebelum kejadian   hujan sempat turun. Namun, saat  kejadian tak ada hujan. Peristiwa  tanah longsor tersebut hanya berlangsung selama 3 detik saja.   

Walinagari  Sungai Batang  Ahsin Dt Bandaro Kayo  menyebutkan sedikitnya ada 12 rumah  rumah yang  tertimbun dan  ada  29  jiwa yang jadi korban keganasan   tanah longsor  tersebut. Namun  dari angka itu sudah termasuk korban selamat, yang masih dicari dan sudah ditemukan dalam kondisi meninggal.  Sehari, sebelum terjadinya  tanah longsor, diakuinya di lokasinya  tempat  terjadinya peristiwa di guyur hujan. Namun insentitas  hujan tidak terlalu lebat. Sedangkan di arah Lubuk Basung  diguyur hujan lebat.

Saat terjadinya  peristiwa  tersebut,hujan sudah berhenti. Banyaknya warga yang  menjadi korban karena  masih tertidur lelap,saat bencana tanah longsor tersebut terjadi. ‘’ Warga  yang tinggal di tempat itu, sebetulnya banyak. Kejadian tanah longsor tersebut berlangsung cepat. Sehingga warga tak bisa menyelamatkan diri. Bahkan ada juga yang masih tertidur lelap,’’ tuturnya. 

Katanya, untuk korban yang selamat  telah diselamatkan  di posko  bencana.  Sembari menunggu kabar  keluarga mereka yang masih dalam pencarian. Sedangkan bagi korban yang telah meninggal, telah dishalatkan dan dimakamkan. ‘’Kita memang tak pernah menduga bencana ini datangnya,’’ tuturnya.

Manager Pusdalup Penanggulangan Bencana  BPBD Sumbar  Ade Edwars mengatakan lokasi yang di tempati oleh  warga kampung Dadak  Kanagarian Sungai  Batang Kecamatan Tanjung  Raya  Kabupaten Agam merupakan daerah merah. Karena lokasi tersebut bukan tempat hunian layak bagi masyarakat. Bahkan pada gempa 30- September 2009 lalu, warga  ditempat itu, juga pernah menjadi korban dampak gempa. Katanya, pemerintah  sudah berencana untuk memindahkan waega di salingka danau manunjau, namun karena lokasi  belum tersedia. Maka pemindahan baru dapat dilakukan secara bertahap.

Terjadinya  tanah longsor  di  Kampung Dadaok dikarenakan   hujan menguyur  tempat tersebut. Sehingga terjadilah tanah longsor. Menurut Ade, peristiwa tanah longsor tidak mesti terjadi pada saat hujan lebat datang. Namun beberapa  jam setelah hujan lebat datang, bisa terjadi tanah longsor.

‘’ itulah yang terjadi di tempat itu. Tanah longsor yang terjadi di Kampung Dadok itu, kan masih efek dari gempa 30 September 2009 lalu,’’ tuturnya.

Ade mengatakan BPBD telah turun membantu proses evakuasi dan menyalurkan bantuan untuk korban bencana di  Agam. Baik bencana  ranah lonsong di Agam ataupun banjr bandang di Simpang Malalak  Kecamatan ampek Koto Kabupaten Agam. ‘’ Tim kami sudah turun ke sana untuk membantu evakuasi dan mensitribusikan bantuan,’’ tuturnya.

Kabid Kedarurutan  BPBD Agam  Rinaldi menuturkan Pemkab  Agam menetapkan tanggap darurat selama 7 hariu terhadap bencana alam  tersebut. Katanya. Pada hari pertama  diakuinya, proses evakuasi tak terkoordinir. Namun pada hari kedua proses evakuasi, proses pencarian terhadap korban akan lebih terkoordinir.

 

Sementara itu Banjir Bandang juga melanda  Simpang Malalak  Kecamatan Simpang Ampek  Koto Kabupaten Agan. Puluhan rumah masyarakat terendam banjir bandang. Informasi dari masyarakat ketinggian banjir bandang mencapai 4 meter. Banjir bandang tak hanya menerjang permukiman masyarakat, namun juga merusak lahan pertanian milik masyarakat.

(ayu/y)