| Kamis, 11 Maret 2010 10:16 | Dulmatin Latih Kader Perakit Bom |
|
Apalagi Dulmatin adalah juru rakitbom tingkat wahid diatas level Dr Azahari. Kapolri Jendral Bambang Hendarso Danuri menegaskan kemampuan perakitan yang dimiliki Dulmatin memang luar biasa. "Dari pengakuan Ali Imron ( perakit bom Bali 1, terpidana seumur hidup, red) Dulmatin memang hebat. Dia lebih tinggi kelasnya dari Dr Azahari," kata BHD di Rupatama Mabes Polri kemarin. Raut muka orang nomor satu di tubuh Korps Bhayangkara itu tampak berseri-seri. Bambang juga mengajak seluruh jajaran perwira tinggi Mabes Polri, diantaranya Wakapolri Komjen Jusuf Manggabarani, Irwasum Komjen Nanan Soekarna, Kabaintelkam Irjen Saleh Saaf, dan Kadivhumas Irjen Edward Aritonang. Dalam penggerebegan di Pamulang, Densus 88 menemukan skema perakitan bom yang ditulis tangan. Selain itu ada pcb detonator yang belum dirangkai. "Ada juga remote bom jarak jauh yang dibawa," kata Kapolri. Polisi juga menemukan salinan paspor nomor 42677 yang dikeluarkan Kantor Imigrasi Jakarta Timur atas nama Yahya Ibrahim. Juga nota penukaran uang dollar senilai 1100 USD dan nota penukaran mata uang Filipina peso di sebuah money changer di General Santos, Filipina. Di rumah Fauzi, Syarif seorang mantri kesehatan di Gg Asem, Pamulang polisi menyita handycam dan laptop merk Acer. "saat ini data-data yang ada didalamnya sedang dipelajari dan masih dikembangkan," kata Bambang. Di Aceh, polisi menemukan senjata AK 47, M-16, ribuan peluru kaliber 7,62 dan 5,56 dan bom asap. Bentuk senjata itu tidak lazim seperti rakitan gerilyawan Filipina Selatan. Bambang memastikan jasad Dulmatin setelah dilakukan pengecekan dna dengan sampel ibu Hj Masniyati dan anaknya Ali Usman. "100 persen Dulmatin dengan kemungkinan kesalahan satu dibanding 100 ribu triliun," kata alumnus Akpol 1974 itu. Dua orang yang juga tewas di Pamulang adalah pengawal Dulmatin yakni Ridwan asal Maros Sulawesi Selatan dan Hasan Nour asal Cengkareng, Jakarta Barat. Di tangan Ridwan ada pistol FN dan hp bernomor sim card asal Aceh. Selain itu ada juga daftar nomor telepon yang ditulis di secarik sobekan kertas. Tim DVI ( Disaster Victim Identification) Mabes Polri juga melakukan pengecekan kesamaan alis Dulmatin, raut muka, tahi lalat dan bentuk hidung. "Tadi (kemarin, red) pagi jam 10 saya laporkan ke presiden SBY dan Wapres Boediono," kata Bambang. Secara tegas, BHD menyebut kelompok yang "bermain" di Aceh dan digerakkan oleh Dulmatin adalah Jamaah Islamiyah. "Kita kontak tembak di Aceh sejak tanggal 22 Februari dengan kelompok JI," katanya. Dulmatin dibantu oleh orang-orang yang pernah tertangkap dalam kasus terorisme sebelumnya. "Dari 400 orang yang tertangkap sudah 242 orang yang bebas. Nah, sebagian dari mereka ini bermain kembali," kata BHD. Kapolri memastikan penangkapan Dulmatin berdasarkan pengakuan teroris yang ditangkap di Aceh. Salah satunya adalah pengakuan Ismet Hakiki dan Zakky Rahmatullah.”Ismet ini adalah orang yang pernah terlibat pengeboman Kedutaan Besar Australia tahun 2004," kata mantan Kabareskrim itu. Sebelum menangkap Dulmatin, polisi juga meringkus Sofyan Atsauri di Depok, Jawa Barat. Sofyan adalah pemasok senjata latihan. "Dia pernah mendirikan tempat latihan menembak di Depok,”kata Bambang. Total ada 21 orang yang sudah diringkus di Aceh dan lima orang dalam penggerebegan di Pamulang. "Skenario mereka itu tidak terputus dan saling berkaitan," kata BHD. Dulmatin juga sudah memerintahkan anggotanya untuk melakukan aksi perampokan. "Sudah ada instruksi untuk fa’i ( perampokan) di beberapa wilayah lain," kata Kapolri. Fa’i adalah aksi mengambil harta orang yang dianggap kafir atau murtad untuk mendukung aksi. Saat ditanya soal hadiah 10 juta USD yang ditawarkan pemerintah AS dan Filipina untuk kepala Dulmatin, Bambang menjawab diplomatis. "Kita tidak bekerja berdasar itu ( hadiah uang) tapi murni untuk penegakan hukum,”katanya. Kapolri juga berterimakasih atas bantuan masyarakat Aceh yang membantu pengungkapan jaringan Dulmatin itu. "Bahkan sampai keuchik (kepala desa) ikut membantu, Polri sangat bersyukur atas bantuan warga Aceh," katanya. Jaringan-jaringan lain yang belum terungkap kata Kapolri akan segera diburu. "anak-anak sampai hari ini belum istirahat. Bintang kami para perwira ini tidak akan ada nilainya tanpa kerja keras anak-anak di lapangan," kata Kapolri. Terhadap keluarga tiga Brimob yang tewas di Aceh, Kapolri memberi santunan dan beasiswa hingga perguruan tinggi untuk anak-anaknya. Istri Boas Waisiri juga diusulkan menjadi pns Mabes Polri , sedangkan adik Brigadir Darmansyah dan Hendra akan diusulkan diterima sebagai anggota Polri. "Kami kehilangan anak-anak terbaik , tapi Alhamdulillah kami bisa mengungkap jaringan ini," kata Kapolri. Secara terpisah, sumber Jawa Pos menyebutkan sasaran utama yang diburu Densus 88 saat ini adalah tokoh kharismatik JI yang merestui dan melindungi Dulmatin beroperasi di Indonesia. "Dia memberi mandat untuk Dulmatin," kata sumber itu saat ditemui di masjid Mabes Polri kemarin petang. Perwira menengah itu menyebut si tokoh ini adalah orang yang secara khusus mengundang dan menyiapkan pengawal bagi Dulmatin. Menurut dia, dari hasil interogasi beberapa orang tersangka yang merupakan pelapis utama Dulmatin, diketahui Dulmatin sudah menjalin kontak dengan beberapa aktivis asal Indonesia sejak awal 2008. "Tapi, itu dilakukan di Filipina Selatan," katanya. Sumber itu menambahkan , pada Januari 2009 Dulmatin berkunjung ke Jawa Tengah. "Dia bertemu dengan tokoh senior JI dan mendapatkan janji perlindungan jika kembali pulang beraktivitas di Indonesia. Setelah itu, paspor dan segala kebutuhan Dulmatin di Indonesia mulai disiapkan. Pada Maret 2009, Dulmatin kembali masuk ke Indonesia melalui Batam. Menggunakan paspor atas nama Yahya Ibrahim yang dikeluarkan kantor imigrasi Jakarta timur. Dulmatin sempat transit di Lampung Lalu, Mei 2009, Dulmatin masuk ke Jakarta. Dia diarahkan oleh anggota kelompoknya untuk mengambil lokasi persembunyian di Pamulang, tangerang Selatan. Alasannya, pemukiman padat kontrakan yang sering digunakan warga pendatang tanpa dicurigai warga. "Saat itu konsentrasi kami memang agak lengah karena ada perubahan sistem secara internal di satuan," kata sumber. Lalu, bom meledak Juli 2009 di Marriott. "dari pengakuan Ismet, Dulmatin sama sekali tidak terlibat. Tapi, kami belum percaya, masih kami pastikan lagi," katanya. Pada Oktober 2009, setelah Noordin tewas di Solo 17 September 2009, tanzhim (struktur) qoidatul jihad menunjuk Dulmatin sebagai pimpinan askari (militer). Dia mulai merekrut dan memanggil ulang para anggota kelompok baik yang sudah pernah dipenjara maupun yang belum tertangkap. Awal Januari 2010, pengiriman tadrib askari (latihan militer ) dimulai. "Namanya memang tadrib ( pelatihan) belum ada target karena mereka menyiapkan penerus," katanya. Lokasi dipilih Jantho, Aceh Besar Menurut sumber itu, Dulmatin juga sudah menyiapkan perakit-perakit bom baru. "Salinan yang kami temukan di tas Dulmatin adalah sobekan di buku tulis. Catatan ini sengaja diedarkan secara terbatas tanpa dikopi, tanpa dibuat file, tapi hanya kertas," katanya. Gunanya, jika dalam kondisi terpaksa, catatan itu bisa segera dimusnahkan. "Cukup dikunyah lalu ditelan. Sudah tidak ada bukti," kata perwira yang pernah kursus anti teror di Manila, Filipina itu. Selain mengajari merakit bom dan memerintahkan untuk merampok, Dulmatin juga berbagi keahlian metode perang gerilya dan penggunaan senjata tajam maupun senjata api. - Mereka mengadopsi teknik gerilyawan Abu Sayyaf di Filipina Selatan," katanya. Sementara itu, kepastian kematian salah satu gerbong terorisme yang diburu, Dulmatin, justru datang dari luar Indonesia. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengungkapkannya saat memberikan sambutan dalam jamuan makan siang dengan anggota Parlemen Australia, kemarin (10/3) di Canberra. "Sesaat sebelum mengakhiri sambutannya, SBY menyampaikan keberhasilan Polri dalam melumpuhkan pergerakan terorisme. "(Kepolisian) Indonesia telah berhasil melumpuhkan Dulmatin, salah satu terorisme yang dicari di Asia Tenggara,"kata SBY di depan anggota parlemen, termasuk Perdana Menteri Australia Kevin Rudd. SBY mengatakan, keberhasilan itu menyusul sukses sebelumnya, yakni dalam menghentikan aksi Dr Azhari yang tewas di Batu, Malang, dan Noordin M. Top, yang ditewaskan di Mojosongo, Solo. Pernyataan SBY tersebut mendapatkan sambutan tepuk tangan dari para undangan yang hadir dalam jamuan makan siang. "Oleh karena itu, demi keselamatan manusia di dunia, mari kita bekerjasama secara global,"kata SBY. Usai sambutan, SBY mendapatkan standing applause dari undangan. Isu terorisme memang menjadi salah satu topik yang dibahas dalam kunjungan kenegaraan SBY di Australia. Saat menyampaikan pidato di depan Parlemen Australia, SBY juga menyinggung kerjasama memberantas aksi terorisme dengan Australia. Kepolisian dua negara akan saling membantu dalam perang terhadap teroris. "Meliputi pertukaran informasi intelijen dan peningkatan kapasitas,"kata SBY. SBY sepakat dengan PM Rudd bahwa terorisme adalah musuh bersama. Setelah peristiwa bom di Hotel J.W. Marriott, PM Rudd mengatakan, serangan teroris terhadap di Indonesia adalah serangan juga terhadap tetangganya. Saat sesi joint media conference, PM Rudd mengapresiasi langkah Indonesia dalam memerangi terorisme. Juga dengan keberhasilannya mengakhiri petualangan dua gembong teroris Dr. Azhari dan Noordin M. Top. "Kami tahu bahwa itu bukan hal yang mudah,"ujar Rudd. Dia mengungkapkan, kedua negara melalui departemen yang terkait, seperti departemen pertahanan, akan lebih memberikan perhatian untuk isu terorisme. "Ke depan, kerjasama (melawan terorisme) ini akan lebih ditingkatkan,"urai Rudd. Secara terpisah, Menkopolhukam Djoko Suyanto mengatakan, keberhasilan Polri dalam melumpuhkan teroris, merupakan hasil pengintaian intensif yang dilakukan Polri. "Jadi tidak tiba-tiba, cuma kepolisian saja yang tidak terlalu mengeksepos," katanya saat ditanya tentang berita dilumpuhkannya Dulmatin. Dia mengatakan, untuk melumpuhkan teroris, aparat menggunakan perhitungan yang matang. "Kalau terlalu awal ikannya akan lari, begitu juga kalau terlambat. Memang soal timing ini cari yang tepat,"terang mantan Panglima TNI. Meski demikian, Djoko membantah jika persoalan timing tersebut dikaitkan dengan rencana kedatangan Presiden AS Barrack Obama ke Indonesia. Demikian juga kunjungan kenegaraan Presiden SBY ke Australia. "Tidak ada kaitannya itu, dengan atau tanpa kedatangan Obama atau kunjungan ke Australia,"tegas Djoko. (fal) |









JAKARTA - Personel Densus 88 Mabes Polri belum bisa tidur nyenyak meskipun Dulmatin sudah tewas. Polisi meyakini sejumlah pelatihan perakitan bom sudah dilakukan oleh pria bernama asli Joko Pitono itu.



Komentar Pembaca