| Kamis, 11 Februari 2010 10:53 | Guru Ideal: Potret Guru Penerima Tunjangan Profesi (2 Habis) |
|
Dalam memilih pendekatan, metode, strategi dan tehnik pembelajaran ditetapkan berdasarkan kesukaan dan pilihan siswa, bukan kesukaan guru, bukan diperintah oleh atasan atau didikte kurikulum. Bagi guru yang ideal, kurikulum bisa saja ‘memaksakan’ pendekatan, metode, strategi dan tehnik yang menurutnya baik tetapi guru tidak terpengaruh dengan hal itu, tetapi hal ini ditentukan berdasarkan karakteristik dan potensi siswa. Disini dia tidak berkiblat secara utuh dengan kurikulum tetapi kurikulum itu harus disesuaikan dengan kebutuhan siswa. Pemilihan materi ajar juga didasarkan pada potensi siswa. Kalau pun kurikulum meminta mengajarkan materi tertentu, tapi peserta didik belum menguasai materi sebelumnya, maka materi itu belum diajarkan. Dipercaya kalau dipaksakan akan merugikan siswa. Ini merupakan cerminan demokratisasi dalam pendidikan. Pemilihan buku teks juga ditetapkan berdasar pilihan siswa dan terlebih dahulu buku itu dievaluasi secara ilmiah dalam rangka mencocokkan dengan kearifan lokal dan kedekatan materi dalam buku itu dengan kehidupan siswa. Menurut sebuah penelitian, semakin ‘familiar’ (dikenal) siswa terhadap konteks materi buku, semakin termotivasi siswa untuk membaca buku itu, bukan berdasarkan besar ‘fee’ dari penerbit. Bagi guru ideal, mengajar itu tidak sekedar mengajar, menghabiskan waktu dalam kelas, tetapi membelajarkan siswa. Menyuap ilmu kepada siswa dengan hanya menceramahi siswa bukanlah hal yang prospektif, tetapi guru itu selalu menggiring siswa untuk belajar sendiri dan mendapatkan ilmu yang sedang dipelajari. Peraturan Pemerintah Nomor 74 tahun 2008 tentang Guru menjelaskan bahwa guru profesional adalah guru yang memiliki kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional yang diperoleh melalui pendidikan profesi. Guru profesional memang harus mengacu pada guru ideal menurut pemerintah, tapi implementasi dilapangan harus melalui preliminary study untuk mengungkapkan potensi dan karakteristik siswa secara komprehensif dan holistik. Karena itu, guru jangan sampai hanya disibukkan dengan mengajar saja, berinteraksi tanpa makna kepada siswa, tapi juga harus mampu menampilkan profesionalitasnya dalam menjalankan fungsi-fungsinya sesuai dengan kebutuhan dan tuntutan kurikulum secara proporsonal. Guru ideal adalah guru yang gemar melakukan penelitian. Penelitian adalah cara guru dalam memecahkan masalah pembelajaran secara sistimatis dan alamiah. Seorang guru yang juga peneliti tidak akan percaya masalah dapat diselesaikan tanpa didahului penelitian. Seorang guru akan selalu “tidak nyaman” dengan prestasi dan proses pembelajaran sampai dia bisa buktikan secara empiris dalam penelitian yang dilakukan. Disini budaya guru adalah budaya meneliti. Mulyasa (2007) juga mengungkapkan bahwa profesionalitas guru merupakan paduan antara kemampuan personal, keilmuan, teknologi, sosial dan spiritual yang secara kaffah membentuk kompetensi standar profesi guru yang mencakup penguasaan materi, pemahaman terhadap peserta didik, pembelajaran yang mendidik, pengembangan pribadi dan profesionalisme. Guru ideal tidak mengadaptasi pendidikan "gaya bank" (Paulo Freire) yang menjelma dalam bentuk 7 (tujuh) dosa besar yang sering dilakukan oleh para guru. Tujuh dosa guru itu adalah: (1) Guru mengajar, murid diajar. (2) Guru mengetahui segala sesuatu, murid tidak tahu apa-apa. (3) Guru berpikir, murid dipikirkan. (4) Guru bercerita, murid mendengarkan. (5) Guru menentukan peraturan, murid diatur. (6) Guru memilih dan memaksakan pilihannya, murid menyetujui. (7) Guru berbuat, murid membayangkan dirinya berbuat melalui perbuatan gurunya. (8) Guru memilih bahan dan pelajaran, murid (tanpa diminta pendapatnya) menyesuaikan diri dengan pelajaran itu. (9) Guru mencampuradukan kewenangan ilmu pengetahuan dan kewenangan jabatannya, yang ia lakukan untuk menghalangi kebebasan murid. (10) Guru adalah subyek dalam proses belajar, murid adalah obyek belaka. Dilain pihak guru ideal itu harus: (1) mempunyai wibawa dan otoritas, seorang guru disegani bukan karena ‘kumisnya’ tapi karena dia memiliki kepribadian yang kuat, sehingga dapat menjaga kewibawaan ilmu dan kewibawaan seorang yang memiliki ilmu; (2) mengamalkan ilmu, guru dapat mengimplementasikan ilmunya ke dalam kehidupan sehari hari, baik ia sebagai individu maupun sebagai bagian dari masyarakat; (3) mengikuti perkembangan zaman. Seorang guru ideal selalu mengikuti perkembangan zaman dan mengetahui hal-hal baru yang berhubungan dengan spesialisasi ilmunya, sehingga informasi yang disampaikannya selalu sesuai perkembangan zaman. ‘Teman’ nya mengajar adalah multimedia: laptop, LCD, internet, dll. Guru ideal itu harus aktif. Aktif adalah berbuat dan melakukan sesuatu dengan sadar tanpa di pengaruhi oleh orang lain dan mempunyai inisiatif yang besar dan rasa ingin tahu yang tinggi. Dia selalu aktif mencari cara untuk membelajarkan siswanya. Aktif menemukan pendekatan, metode, strategi dan tehnik yang mampuni untuk memfasilitasi siswa belajar. Guru ideal itu juga kreatif. Kreatif adalah mencipta sesuatu hal yang berbeda dengan gaya atau cara kita sendiri. Dia selalu kreatif dalam membuat siswanya mencintai pelajarannya. Caranya mengajar merupakan hasil kreafitas sendiri. Dia juga kreatif menciptakan pendekatan, metode, strategi dan tehnik yang sesuai dengan karakteristik dan potensi siswa. Guru itu juga inovatif. Inovatif itu adalah pembarahuan atau memberi pembaharuan hal-hal yang sudah ada menjadi semakin bervariasi dengan cara membuat semua hal yang ada sekeliling kita menjadi indah dan menyenangkan. Guru itu selalu memvariasikan pendekatan, metode, strategi dan tehnik untuk mempertahankan ‘masa aktif’ siswa untuk belajar. Kepada para guru penerima tunjangan profesi diharapkan jangan terlena dengan tunjangan yang diterima selama ini tanpa ada perubahan mendasar dalam menjalankan tugas profesinya. Mari buktikan sebuah hipotesis: tunjangan profesi akan meningkatkan kualitas pembelajaran. Karena itu, guru jangan sampai hanya disibukkan dengan mengajar saja, berinteraksi tanpa makna kepada siswa, tapi juga harus mampu menampilkan profesionalitasnya dalam menjalankan fungsi-fungsinya sesuai dengan kebutuhan dan tuntutan kurikulum secara proporsonal.Guru ideal adalah guru yang gemar melakukan penelitian. Penelitian adalah cara guru dalam memecahkan masalah pembelajaran secara sistimatis dan alamiah. Seorang guru yang juga peneliti tidak akan percaya masalah dapat diselesaikan tanpa didahului penelitian. Seorang guru akan selalu “tidak nyaman” dengan prestasi dan proses pembelajaran sampai dia bisa buktikan secara empiris dalam penelitian yang dilakukan. Disini budaya guru adalah budaya meneliti. Mulyasa (2007) juga mengungkapkan bahwa profesionalitas guru merupakan paduan antara kemampuan personal, keilmuan, teknologi, sosial dan spiritual yang secara kaffah membentuk kompetensi standar profesi guru yang mencakup penguasaan materi, pemahaman terhadap peserta didik, pembelajaran yang mendidik, pengembangan pribadi dan profesionalisme. Guru ideal tidak mengadaptasi pendidikan "gaya bank" (Paulo Freire) yang menjelma dalam bentuk 7 (tujuh) dosa besar yang sering dilakukan oleh para guru. Tujuh dosa guru itu adalah: (1) Guru mengajar, murid diajar. (2) Guru mengetahui segala sesuatu, murid tidak tahu apa-apa. (3) Guru berpikir, murid dipikirkan. (4) Guru bercerita, murid mendengarkan. (5) Guru menentukan peraturan, murid diatur. (6) Guru memilih dan memaksakan pilihannya, murid menyetujui. (7) Guru berbuat, murid membayangkan dirinya berbuat melalui perbuatan gurunya. (8) Guru memilih bahan dan pelajaran, murid (tanpa diminta pendapatnya) menyesuaikan diri dengan pelajaran itu. (9) Guru mencampuradukan kewenangan ilmu pengetahuan dan kewenangan jabatannya, yang ia lakukan untuk menghalangi kebebasan murid. (10) Guru adalah subyek dalam proses belajar, murid adalah obyek belaka. Dilain pihak guru ideal itu harus: (1) mempunyai wibawa dan otoritas, seorang guru disegani bukan karena ‘kumisnya’ tapi karena dia memiliki kepribadian yang kuat, sehingga dapat menjaga kewibawaan ilmu dan kewibawaan seorang yang memiliki ilmu; (2) mengamalkan ilmu, guru dapat mengimplementasikan ilmunya ke dalam kehidupan sehari hari, baik ia sebagai individu maupun sebagai bagian dari masyarakat; (3) mengikuti perkembangan zaman. Seorang guru ideal selalu mengikuti perkembangan zaman dan mengetahui hal-hal baru yang berhubungan dengan spesialisasi ilmunya, sehingga informasi yang disampaikannya selalu sesuai perkembangan zaman. ‘Teman’ nya mengajar adalah multimedia: laptop, LCD, internet, dll. Guru ideal itu harus aktif. Aktif adalah berbuat dan melakukan sesuatu dengan sadar tanpa di pengaruhi oleh orang lain dan mempunyai inisiatif yang besar dan rasa ingin tahu yang tinggi. Dia selalu aktif mencari cara untuk membelajarkan siswanya. Aktif menemukan pendekatan, metode, strategi dan tehnik yang mampuni untuk memfasilitasi siswa belajar. Guru ideal itu juga kreatif. Kreatif adalah mencipta sesuatu hal yang berbeda dengan gaya atau cara kita sendiri. Dia selalu kreatif dalam membuat siswanya mencintai pelajarannya. Caranya mengajar merupakan hasil kreafitas sendiri. Dia juga kreatif menciptakan pendekatan, metode, strategi dan tehnik yang sesuai dengan karakteristik dan potensi siswa. Guru itu juga inovatif. Inovatif itu adalah pembarahuan atau memberi pembaharuan hal-hal yang sudah ada menjadi semakin bervariasi dengan cara membuat semua hal yang ada sekeliling kita menjadi indah dan menyenangkan. Guru itu selalu memvariasikan pendekatan, metode, strategi dan tehnik untuk mempertahankan ‘masa aktif’ siswa untuk belajar. Kepada para guru penerima tunjangan profesi diharapkan jangan terlena dengan tunjangan yang diterima selama ini tanpa ada perubahan mendasar dalam menjalankan tugas profesinya. Mari buktikan sebuah hipotesis: tunjangan profesi akan meningkatkan kualitas pembelajaran!***
Amri Ikhsan Guru MAN Muara Bulian. Kabupaten Batanghari |









Setiap langkah dari guru ideal selalu dilandasi dengan ‘format ilmiah’ dan mengurangi doktrinisasi dari pihak pengambil kebijakan. Untuk hal ini, guru selalu mengawali pekerjaannya dengan melakukan analisis kebutuhan (need analysis) kepada siswanya untuk mengetahui kebutuhan kebutuhan siswa baik fisik maupun rohani tanpa ada rekayasa.



Komentar Pembaca