| Selasa, 16 Februari 2010 10:01 | KLINIK PENDIDIKAN: Reformasi Pendidikan |
|
Bagaimanakah mereformasi Pendidikan bagi Calon Guru? (SMS HG Marpaung, Tanjung Duren). Jawab: Kasus menjamurnya kelas jauh hingga tiap desa, kecamatan maupun kabupaten telah menggejala secara nasional termasuk di provinsi Jambi. Penyelenggaraan pendidikan secara asal-asalan berkembang secara pesat tanpa mempertimbangkan kualitas proses penyelenggaraan serta dampak yang ditimbulkan di kemudian hari. Para penyelenggara kelas jauh “aji mumpung” untuk menyelenggarakannya seolah tanpa dosa. Kondisi ini diperparah oleh dalih-dalih pembenaran atas dasar permintaan daerah, guru sulit meninggalkan sekolah/tugas, tuntutan sertifikasi dan lain-lain. Dampak yang harus ditanggung khususnya guru-guru yang ada di provinsi Jambi produk dari kelas jauh adalah minim inovasi. Inovasi pembelajaran, inovasi karya ilmiah dan berbagai aktivitas dalam pengembangan profesinya. Tragedi pembelajaran yang tidak terstandarisasi dan dilakukan secara instan jelaslah sangat merugikan dunia pendidikan kita. Akankah pelajaran itu terulang kembali di masa yang akan datang? Lambanya pemerintah menyikapi kasus-kasus tersebut menambah lengkapnya degradasi kualitas pendidikan kita. Namun, melalui program BERMUTU ini, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Dikti) memfasilitasi LPTK untuk membenahi elemen-elemen penting dalam penyelenggaraan proses pendidikan dan pengajaran. Caranya adalah Dikti menyiapkan dan mengembangkan 26 LPTK agar mampu memperoleh akreditasi dalam mendidik S-1 pendidikan calon guru dan pendidikan profesi guru sehingga mampu melahirkan guru yang bermutu. Artinya, dengan melalui proses pendidikan secara benar dan terukur sesuai dengan standar minimal yang dipersyaratkan dan dilaksanakan secara konsisten merupakan suatu tuntutan dari mutu pendidikan. Konsep mutu tidak ada penyelenggaraan melalui jalan pintas yakni dibutuhkan proses secara tekun dan konsisten agar mengetahui komponen apa saja yang menjadi persoalan dalam proses pendidikan sehingga dengan mudah untuk dibenahi. Disamping itu, pengembangan program Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) S-1 PGSD di Universitas Terbuka dan 23 LPTK sehingga mutu PJJ untuk pendidikan guru akan lebih efektif, efisien, dan bermutu terus ditingkatkan. Dorongan dengan memanfaatkan ICT sebagai alat bantu dalam pembelajaran terus dikembagkan. Realitas menunjukkan bahwa faktor geografis dan kemandirian peserta belajar masih menjadi kendala bahkan pemanfaatan ICT belum dilakukan secara optimal.Upaya lain sebagai faktor penentu adalah meningkatkan kualitas dan kuantitas staf pengajar di LPTK terpilih untuk mendukung pendidikan S1 PGSD melalui pengiriman 30 dosen untuk S3, dan 90 dosen akan mengikuti pelatihan di luar-negeri dalam bidang ilmunya maupun ICT dalam pembelajaran secara terintegrasi. Demikian, salam. ***
Dr. Sudaryono, M.Pd Konsultan Pendidikan |














Komentar Pembaca