Mobile Version
m.jambiekspresnews.com

Tulang Rusuk Patah, Sudah Lima Kali Operasi
Rabu, 11/09/2013 - 11:24:32 WIB | Kategori: Hukum - Dibaca: 1573 kali

Ahmad dhani meminta maaf kepada salah satu ayah korban meninggal.

Kondisi Anak Ahmad Dhani, Dul, pasca Tabrakan

Di RS Pondok Indah, Dul  dirawat di ruang ICU. Dia ditemani ibunya, Maia. Sedangkan kerabat dekatnya tampak menunggu di luar ruangan.

MESKI sudah beberapa hari dirawat, kondisi Dul belum juga membaik. Bahkan kemarin,  pagi hari Dhani sempat memberikan kabar kepada media bahwa kondisi anaknya baik-baik saja. Namun hanya 1 menit, ayah Al, El, Dul itu masuk lagi ke dalam gedung.

Malam harinya, terlihat beberapa kerabat Dhani dan teman-teman artisnya datang. Sebut saja, Melly Goeslaw, Anto Hoed, Camelia Malik, Sheena X Factor, Vicky Shu, dan Nu Dimension. Teman-teman Al juga terlihat mondar mandir bersama anak sulung Dhani-Maia itu di RS. Dul sendiri masih berada di ruang ICU untuk menjalani operasi ke-4.

Sekitar jam 20.00 WIB, terlihat keluarga salah satu korban kecelakaan Tol Jogorawi datang ke RS Pondok Indah. Namun, mereka langsung masuk dan diamankan oleh petugas keamanan RS Pondok Indah.

Baru sekitar jam 21.00 WIB, Dhani bersama keluarga korban yang diketahui berasal dari Bogor, keluarga Alm. Agus Komara, menemui media untuk memberikan penjelasan.

"Nama saya Pak Kosasih, orang tua dari almmarhum Agus Komara.

Kita sebagai manusia apapun yang terjadi sudah takdir. Sama yang disini kita prihatin melihat keadaan putranya Pak Dhani, prihatin. Masalah ini nggak usah dibikin rumit lagi. Yang penting saya minta doanya agar anak saya yang sudah meninggal bisa diterima," ujar Kosasih.

Dhani mengungkapkan, Dul hingga kemarin malam telah menjalani operasi ke-4 untuk mengambil darah yang menggenang di paru-parunya. Kurang lebih 350 cc darah diambil dari paru-paru Dul. Darah itu berasal dari tulang rusuknya yang patah. Hari ini, Dul akan menjalani operasi ke-5 yang hampir bisa dipastikan sebagai operasi terakhir untuk menyambung tulang rusuknya yang patah.

"Hari ini ada 2 temuan baru. Yang pertama, darah memenuhi paru-paru anak saya. Dan yang kedua, ternyata tulang rusuknya ada yang patah, tulang rusuk ke 5, 7,8. Bahaya jika Dul banyak gerak, makanya benar-benar dijaga sampai sekarang," tutur Dhani.

Dhani mengaku, kemarin seharusnya dia mengunjungi keluarga korban yang ada di Purbalingga dan Garut. Tapi karena kondisi Dul yang tiba-tiba drop, hb-nya turun dan mendadak kritis, Dhani membatalkan niatnya. Tapi, pentolan Dewa 19 itu sudah mengirimkan beberapa orang untuk ikut tahlilan di rumah keluarga korban.

Selain Kosasih, menurut Dhani hari ini masih akan ada beberapa keluarga korban lagi yang datang untuk menjenguk Dul. Dhani merasa terharu, karena keluarga korban meninggal bisa menyikapi kejadian naas itu dengan tenang. Bahkan mereka masih mau menyempatkan diri untuk datang ke RS Pondok Indah.

"Alangkah indahnya orang yang sudah ditinggal anaknya karena kecelakaan yg disebabkan mobil anak saya mau datang kesini. Polisi sudah melakukan tugasnya dengan baik. Jangan dikuya-kuya lagi," ujar Dhani.

Sementara itu, Ibunda AQJ, Maia Estianty, dalam sebuah tayangan di televisi memohon maaf pada seluruh korban kecelakaan lalu lintas yang disebabkan anaknya. Maia juga mengucapkan bela sungkawa dan memohon maaf karena belum menjenguk korban yang menderita luka-luka.

"Saya mohon maaf untuk anak saya, Dul. Saya juga mohon maaf karena saya belum bisa meninggalkan Dul, karena saya sebagai ibu sangat syok sehingga belum bisa menemui para korban," katanya

Polda Metro Jaya memastikan kasus kecelakaan yang disebabkan anak bungsu Ahmad Dhani, AQJ, 13 tahun, akan terus berlanjut hingga ke pengadilan. Kesepakatan damai serta janji pemberian santunan tidak akan membuat polisi menghentikan kasus kecelakaan yang merenggut enam nyawa dan 11 korban luka parah pada Minggu (8/9) dinihari.

Polisi kemarin sebenarnya menjadwalkan pemeriksaan terhadap Ahmad Dhani dan Maia Estiyanti untuk mendapatkan keterangan tentang kejadian-kejadian sebelum kecelakaan. Polisi juga akan mendalami apakah Dhani dan Maia mengetahui atau bahkan mengizinkan AQJ mengendarai mobil meski belum memiliki SIM.

"Keterangan keluarga sangat penting, karena setidaknya keluarga mengetahui kejadian-kejadian sebelum tersangka terlibat kecelakaan," kata Wakil Direktur Lalu Lintas Polda Metro Jaya AKBP Sambodo Purnomo kemarin (10/9).

Namun, hingga pukul 14.00, Dhani dan Maia tidak hadir di Dirlantas Polda Metro Jaya di kawasan Cawang, Jakarta Timur. Keduanya absen karena Dhani masih mengunjungi rumah sejumlah keluarga korban baik yang meninggal dunia maupun luka-luka.

Sementara, Maia hingga tadi malam diketahui belum pernah meninggalkan kamar perawatan AQJ di RS Pondok Indah. Polisi berencana memanggil lagi keduanya pada hari ini (11/9). "Kami akan melayangkan panggilan kedua pada Ahmad Dhani dan Maia besok (11/9). Soal jeratan hukum untuk orang tuanya hingga kini penyidik belum memutuskan," lanjut Sambodo.

Menurut perwira dengan dua melati di pundak tersebut, penyidik hingga kini masih mendalami penyebab mobil Mitsubishi Lancer B 80 SAL tersebut melayang menabrak guardrail tol lantas menabrak Daihatsu Grand Max dan menyenggol bagian belakang Toyota Avanza yang berada di arah berlawanan. Penyidik juga masih menunggu hasil oleh TKP yang dilakukan oleh tim Traffic Accident Analysist (TAA) dan laboratorium forensik.

"Kasus ini akan berjalan terus meski telah terjadi perdamaian dan pihak tersangka telah memberikan santunan kepada keluarga korban," tegas Sambodo.

Hal ini disebabkan Pasal 235 UU Lalu Lintas memang mengatur bahwa penyebab kecelakaan wajib bertanggung jawab pada masa depan korban dan keluarganya. Dengan demikian, meski santunan telah diberikan dan tidak ada tuntutan dari keluarga korban, proses hukum harus tetap berlangsung. 

Penyidik hingga kini menetapkan AQJ sebagai tersangka tunggal karena menganggapnya bersalah karena kelalaian sehingga menyebabkan korban meninggal dunia dan luka berat sesuai pasal 310 ayat 4 UU 22 tahun 2009 tentang Lalu-lintas dengan ancaman hukuman maksimal 6 tahun.

Polisi batal menetapkan status tersangka pada sopir Grand Max yang awalnya dinilai bersalah karena melakukan modifikasi terhadap Gran Max sehingga mampu menampung 13 orang penumpang. Setelah dilakukan pemeriksaan, modifikasi ternyata dilakukan oleh perusahaan yang menyewakan, sehingga sopir Daihatsu Gran Max dinyatakan sebagai korban.

Polisi juga akan menggunakan UU No 3 tahun 1997 tentang Peradilan Anak sehingga anak yang berusia 13 tahun dapat dimintai pertanggungjawaban hukum dengan sejumlah perlakuan khusus. Diantaranya, hakim, jaksa, dan pengacara tidak akan menggunakan toga, sidang dilakukan secara tertutup, dan pemidanaan tidak menghilangkan masa depan tersangka.

"Kita berkonsultasi dengan psikolog. Hasilnya, kejiwaan anak yang masih labil menyebabkan faktor human error meningkat. Faktor itu yang membahayakan anak-anak ketika berkendara," terang Kanit Laka Lantas Satlantas Polres Metro Jakarta Timur AKP Agung Budi Leksono.

Berdasarkan hasil tes darah dan urine, AQJ dinyatakan negatif narkoba dan alkohol. Penyebab kecelakaan diperkirakan ketika kecepatan mencapai 105,8 kilometer per jam, ban tidak dalam posisi seimbang sehingga selip dan mobil membelok ke arah besi pembatas jalan (guardrail).

Setelah menabrak guardrail, sehingga potongan guardrail sepanjang tiga meter tersangkut ke bemper Mitsubishi Lancer, mobil masih meluncur sepanjang 34 meter ke sebelah kanan dan menabrak bagian depan Grand Max serta menyenggol bagian lambung Avanza yang berada di jalur mengarah ke Bogor.

"Faktor lainnya adalah adanya perbedaan tinggi jalan antara jalur yang mengarah ke Bogor dan yang mengarah ke Jakarta, serta lemahnya pembatas jalan (guardrail) yang seharusnya mampu mencegah mobil beririsan dengan kendaraan yang melaju dari arah yang berlawanan," terangnya.

Kapolda Metro Jaya Irjen Putut Eko Bayuseno menegaskan, pihaknya akan melakukan proses penyidikan secara profesional. Hal itu terkait dengan kekhawatiran bahwa orang tua tersangka, Ahmad Dhani, menggunakan pengaruhnya untuk memengaruhi penyidikan.

"Kami dalam hal proses penyidikan tidak bisa dipengaruhi siapapun. Kamu lurus dan profesional," kata Putut di sela rapat kerja Kapolri dengan Komisi III DPR di kompleks parlemen, kemarin. dia meminta publik untuk bersabar menunggu hasil penyidikan.

Putut menjelaskan, selain hasil dari olah TKP, kepolisian juga mengundang ahli untuk mengetahui perkiraan kecepatan mobil yang dikemudikan AQJ. "Kami tambah juga dengan keterangan dari sebelas orang saksi," kata Putut.

Jumlah saksi tersebut belum termasuk Ahmad Dhani. Dari pentolan grup band Dewa 19 tersebut penyidik ingin mengetahui apakah orang tua mengizinkan atau tidak AQJ mengemudikan kendaraan sendiri. "Kemungkinan bisa," jawab saat Putut saat ditanya kemungkinan Dhani dikenai pasal pidana.

Mantan ajudan Presiden SBY itu mengatakan, memang akan ada perlakuan khusus dalam menangani kasus AQJ itu. Sebab, tersangka masih berusia 13 tahun. Misalnya dengan memberikan pendampingan. Namun proses peradilannya akan diserahkan kepada pihak yang berwenang.

Terkait dengan ada tidaknya tuntutan dari pihak keluarga korban, Putut mengatakan, hal itu akan menjadi pertimbangan bagi hakim dalam proses persidangan untuk menjatuhkan putusan. "Kami hanya dalam proses penyidikan, nanti (vonis) terserah pengadilan," ujar Putut.

Terkait rencana Dhani merujuk anaknya ke sebuah rumah sakit di Singapura karena ada pendarahan di bagian perut, polisi mempersilakan keluarganya meminta izin ke penyidik. Menurut Sambodo, izin berobat hingga ke luar negeri memungkinkan setelah dokter kepolisian melakukan pemeriksaan karena penyidik juga berkepentingan agar tersangka segera dapat dimintai keterangan.

Tidak takut melarikan diri? "Anak kecil dengan kondisi seperti itu emang bisa lari seberapa jauh," kelakar Sambodo.

 Sejak jam 10.30 WIB para awak media sudah berkumpul di Ditlantas Polda Metro Jaya, Pancoran, karena mendengar kabar bahwa Ahmad Dhani dan Maia Estianty akan menjalani pemeriksaan terkait kasus yang menimpa putra mereja Ahmad Abdul Qodir Jaelani, (13). Namun, setelah menunggu hingga jam 12.30 WIB tidak ada tanda-tanda kedatangan dua musisi yang telah bercerai itu.

Saat di konfirmasi kepada AKBP Hindarsono, Kepala Subditgakkum Polda Metro Jaya melalui sms kemarin (10/9), dia mengatakan bahwa hari itu tidak ada agenda pemeriksaan.

"Dhani akan diperiksa di ditlantas Pancoran, tapi besok. Jamnya belum tahu," ujarnya seperti yang dikutip dari sms balasan saat dihubungi Jawa Pos.

Menurut Wakil Direktur Lalulintas Polda Metro Jaya, AKBP Sambodo Purnomo, orang tua Dul tidak dapat memenuhi panggilan kemarin karena masih ada janji untuk bertemu dengan keluarga korban.

"Hasil komunikasi dengan ortu tersangka tidak bisa (diperiksa) hari ini, tapi akan penuhi panggilan polisi besok siang. Karena hari ini mereka sudah janji dengan keluarga korban," ujarnya saat dihubungi melalui telepon.

(agu/yuz/fal)







BERITA TERKAIT :



0 Komentar :






  Terkini  
  Terpopuler  
  Komentar  




INDEKS BERITA

/ /