Mobile Version
m.jambiekspresnews.com

Kemarau Ancam Ekonomi Jambi
Rabu, 05/09/2012 - 06:21:10 WIB | Kategori: Ekonomi - Dibaca: 1718 kali

Ilustrasi petani sedang melihat sawah yang tidak bisa Dipanen karena Kemarau Panjang. [Ridwan/jambiekspres]

" " Jika harga di komoditi perkebunan anjlok, penerimaan petani turun, berdampak kepada pertumbuhan ekonomi daerah. Dan mengganggu stabilitas pendapatan petani

Ratusan Ha Sawah Kekeringan

JAMBI - Musim kemarau yang terjadi saat ini diprediksikan bisa berdampak kepada ekonomi Jambi. Apalagi dari sisi produksi, pertumbuhan ekonomi Jambi disupport oleh pertanian sub sektor perkebunan dan sub sektor pertambangan yang memberikan kontribusi besar.

''Jika harga di komoditi perkebunan anjlok, penerimaan petani turun, berdampak kepada pertumbuhan ekonomi daerah. Dan mengganggu stabilitas pendapatan petani,'' ungkap pengamat ekonomi, Dr Pantun Bukit.

Ini katanya, belum lagi dengan beban kredit yang harus ditanggung petani. Jika mereka memiliki kredit, lanjutnya,  likuiditas petani juga terganggu. ''Ini tentu sudah menganggu dunia perdagangan,'' tukasnya. Oleh karena itu, lanjutnya, pemerintah harus melakukan upaya untuk memperbaiki ekonomi tersebut. Salah satunya dengan menaikkan daya tawar petani. ''Bisa dengan memberikan subsidi dan bisa juga dengan memberikan bantuan lainnya. Kan pemerintah punya APBD,'' tukasnya.

Kepala Biro Ekbang dan SDA Provinsi Jambi, Henrizal mengatakan pemerintah tidak bisa berbuat apa-apa. Dia menilai, kejadian turunnya harga karet dan produktivitas karet karena kemarau memang terjadi setiap tahun. “Kita Tidak bisa berbuat apa-apa,” tandasnya, saat di temuai harian ini di kantornya, kemarin.

Alternatif yang lain yang harus dilakukan oleh pemerintah, menurut Hendrizal, pemerintah harus mempunyai industri hilir. “Inilah mimpi-mimpi kita,” tandasnya. Apabila Jambi juga tidak mempunyai Industri hilir, setiap tahunnya, gejolak harga karet pasti akan akan terjadi.

“Rencana pendirian industri hilir ini memang sudah di rencanakan oleh pak gubernur. Tapi, belum terlaksana dengan maksimal,” ujarnya, seraya mengatakan di Jambi hanya ada satu industri hilir.

Sementara itu, 900 Hektar sawah yang terletak di Kecamatan Tebo Ilir terancam gagal panen. Hal ini di karenakan karena kurangnya curah hujan dalam beberapa minggu belakangan ini. Meski saat ini genangan air masih ada, akan tetapi tidak banyak. Berkemungkinan besar jika dalam beberapa minggu ke depan jika tidak terjadi hujan maka panen di tahun ini akan gagal.

Hal ini di jelaskan langsung oleh, Peltu Kadis Pertanian Amsiridin,SP melalui Kabid TPH (Tanaman pamngan Holtikultura) Kembar Nainggolan kepada harian ini kemarin (04/09). Untuk saat ini berdasarkan hasil pantauan kami, untuk kawasan areal persawahan yang terletak di Kecamatan Tebo Ilir seluas 900 Hektar bakal terancam gagal panen. Hal ini dikarenakan, kurangnya curah hujan dalam beberapa minggu belakangan terakhir ini.

“Sawah seluas 900 hektare yang terletak di kawasan areal persawahan di kecamatan Tebo Ilir terancam gagal panen. Dan ini di karenakan kurangnya curah hujan dalam beberapa minggu terakhir belakangan ini,'' ujarnya.

Meski saat ini masih ada genangan air, namun tidak menutup kemungkinan dalam beberapa hari lagi akan habis genangan air tersebut akan habis. Dan juga jika dalam beberapa minggu kedepan tidak terjadi hujan maka berkemungkinan besar 900 hektare sawah akan gagal panen.

“Jika dalam beberapa hari atau beberapa minggu kedepan tidak terjadi hujan maka berkemungkinan besar sawah seluas 900 hektar akan gagal panen, “ujarnya lagi.

Dari Sarolangun juga dilaporkan,di desa Muaro Duo kecamatan Batang Asai terdapat sekitar dua puluh lima hektar sawah warga telah mengalami kekeringan. Hal ini diungkapkan Ir. Dede Hendri kepala dinas pertanian kabupaten sarolangun kemarin (4/9), menurut Dede Hendri secara umum persawahan masyarakat yang ada di kabupaten sarolangun ini sudah mengalami kekeringan, walaupun ada yang belum kekeringan itu hanya sebagian kecil.

“Di kabupaten Sarolangun ini terdapat sekitar tiga ratus hektare sawah yang bersumber dari APBN, belum lagi yang berasal dari swadaya. Namun dari ratusan hektar sawah tersebut saat ini yang masih dalam tahap penanaman sebanyak 25 hektar dan kondisinya terancam tidak panin, sedangkan yang lainnya sudah panen sebelum puasa lalu,” ujar Dede Hendri.

Di Kota Jambi sendiri sekitar 100 hektare lahan persawahan milik masyarakat di Kota Jambi, terancam kekeringan. Hal ini diakui oleh Kepala Dinas Pertanian, Peternakan, Perikanan dan Kehutanan Kota Jambi, Teguh Wiyono, kepada harian ini, kemarin (4/9).

                Disebutkannya, 100 hektar lahan itu berada di wilayah Kecamatan Danau Teluk. “Ada 100 hektar lahan yang terancam kekeringan. Namun saat ini belum kekeringan. Baru indikasi akan terjadi kekeringan,” katanya.

                Dirinya menyebutkan, petani di lokasi tersebut, memang sedikit terlambat melakukan penanaman lahan persawahannya. Hal itu, sambungnya, dikarenakan cuaca yang tak menentu. Pasalnya, pada masa bercocok tanam, kondisi cuaca di Kota Jambi tak menentu.

                “Selain di Danau Teluk, petani di Kecamatan Jambi Timur juga kemarin terlambat melakukan penanaman. Disana ada sekitar kurang lebih 100 hektare juga. Indikasi bakal kekeringan juga bisa saja terjadi disana. Namun, kita belum menerima laporan terkait indikasi kekeringan itu. Sejauh ini disana masih baik,” jelasnya.

Yang agak mengembirakan dari Bungo, dilaporkan bahwa Kadis Pertanian dan Hortikultura Bungo, Harmadji menyebutkan, belum ada laporan dari petani, adanya sawah mereka yang kekeringan akibat musim kemarau ini. Menurutnya, lahan persawahan di Kabupaten Bungo, hampir tidak ada yang kesulitan air. Dengan demikian, semua sawah tidak ada yang mengalami kekeringan, bahkan yang musim tanam baru-baru ini diperkirakan panen sebulan kedepan.

Dari Kerinci sendiri dilaporkan, akibat kekeringan petani tidak bisa melakukan penanaman padi. Saat ini ratusan hektar sawah milik petani tidak bisa untuk ditanam kembali. Pasalnya, ratusan hektare sawah ini mengalami kekeringan dan susahnya mencari sumber air.          Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Kerinci, Bambang Karyadi, dikonfirmasi oleh harian ini mengatakan, saat ini Kerinci begitu juga Sungaipenuh memasuki musim tanam, paska panen padi dua bulan lalu.

          Namun, kata Bambang, petani di Kerinci saat ini tidak bisa kembali turun kesawah untuk menanam padi, karena kondisi sawah yang kekeringan. “Gagal panen tidak ada, karena Kerinci baru selesai panen, namun permasalahnya sekarang petani tidak bisa menanam kembali, karena sawah mereka mengalami kekeringan,”ujar Bambang.  

 Dari Kabupaten Muarojambi dilaporkan bahwa ratusan hektar padi yang ada saat ini masih tergolong aman dari bencana Puso, sebab kondisi kemarau ini telah diprediksi oleh petani jauh-jauh hari.
"Hampir seluruh padi di Muarojambi aman dari ancaman puso, yang dihadapi petani saat ini hanya kekeringan namun saat ini seluruh padi telah menguning siap dipanen jadi tidak akan ada yang terna Puso,"ujar Kadis Pertanian Kabupaten Muarojambi Ir. Darwin Sitanggang.

(arm/fth/wsn/era/zha/hdi/dhi/fad/yos)







BERITA TERKAIT :



0 Komentar :






  Terkini  
  Terpopuler  
  Komentar  




INDEKS BERITA

/ /